Senin, 18 Mei 2026

Profil Mojtaba Khamenei, Sosok Disebut Pengganti Ayatollah Ali Khamenei

Mojtaba dilaporkan selamat dari serangan yang menewaskan ayahnya, karena tidak berada di tempat saat kediaman Pemimpin Tertinggi di Teheran diserang.

Tayang:
Editor: Regina Goldie
WIKIMEDIA COMMONS via WION | Handover/Saudi Gazette
PEMIMPIN IRAN - Mojtaba Khamenei,(kanan) putra kedua dari Ali Khamenei, dikabarkan telah terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. 

Bahkan, banyak warga Iran yang mengaku belum pernah mendengar suaranya meskipun namanya sering disebut-sebut dalam lingkaran kekuasaan.

Tuduhan Terlibat dalam Penindasan Demonstrasi

Beberapa kelompok oposisi Iran selama hampir dua dekade terakhir menuduh Mojtaba terlibat dalam penindasan terhadap demonstrasi anti-pemerintah.

Tuduhan ini terkait dengan pengelolaan protes besar, seperti Gerakan Hijau Iran 2009, yang terjadi setelah pemilihan presiden yang penuh kontroversi dengan kemenangan Mahmoud Ahmadinejad.

Sejak saat itu, pasukan paramiliter Basij yang berada di bawah kendali IRGC kerap menjadi garda terdepan dalam menanggulangi gelombang protes di Iran.

Baca juga: BI Sulteng Hancurkan 3.000 Lembar Uang Palsu, Perangi Peredaran Uang Palsu di Masyarakat

Kontroversi Terkait Kekayaan dan Jaringan Ekonomi

Selain peran politiknya, sejumlah laporan media Barat juga mengungkapkan bahwa Mojtaba memiliki jaringan ekonomi yang luas, dengan dugaan keterlibatan dalam berbagai aset di luar negeri.

Namun, tuduhan ini belum pernah dibuktikan secara resmi, dan Mojtaba sendiri belum memberikan tanggapan publik mengenai hal tersebut.

Status Keulamaan Mojtaba

Dari sisi keagamaan, Mojtaba Khamenei memiliki gelar hojatoleslam, sebuah gelar ulama menengah dalam hierarki Syiah.

Gelar ini sempat memunculkan perdebatan, mengingat Pemimpin Tertinggi Iran biasanya dipegang oleh ulama dengan gelar lebih tinggi, yaitu ayatollah.

Namun, sejarah mencatat bahwa ayahnya, Ali Khamenei, juga tidak menyandang gelar ayatollah saat pertama kali diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi pada 1989, setelah meninggalnya Ruhollah Khomeini. Pada saat itu, konstitusi Iran diubah agar memungkinkan pengangkatannya.

Baca juga: 6 Unit Sepeda Motor Hangus Terbakar dalam Insiden Kebakaran di Desa Bente

Proses Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran

Saat ini, pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran berada di tangan Majelis Pakar, sebuah lembaga ulama yang terdiri dari 88 anggota.

Sumber: Tribun Palu
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved