Rabu, 20 Mei 2026

Andi Angga Prasadewa, Relawan Asal Makassar Ditangkap Pasukan Israel

Mereka ditangkap saat membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza dan ikut rombongan mada kapal Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0.

Tayang:
Editor: mahyuddin
Handover
WNI DITANGKAP ISRAEL - Pasukan zionis Israel menangkap 9 Warga Negara Indonesia (WNI) di dekat Siprus, Mediterania Timur, Senin (18/5/2026). Satu di antaranya adalah Andi Angga Prasadewa, asal Makassar, Sulawesi Selatan. 

Andre Prasetyo dari Tempo TV juga mengirim video pesan darurat atau SOS.

Setelah sempat tidak dapat dihubungi, Andre mengirimkan video berdurasi 53 detik kepada tim GPCI.

Video tersebut merupakan salah satu protokol yang telah disiapkan peserta pelayaran Global Sumud Flotilla. 

Para peserta diminta merekam pesan darurat untuk dipublikasikan apabila tentara Israel menangkap atau memutus komunikasi mereka selama misi berlangsung.

Dalam pernyataan resminya, GSF menyebut armadanya yang terdiri dari kapal-kapal sipil tengah berlayar untuk membuka jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza ketika dikepung oleh kapal perang Israel di perairan internasional, sekitar 250 mil laut dari wilayah tersebut.

Mereka menggambarkan situasi ini sebagai kelanjutan dari pola intersepsi sebelumnya terhadap kapal sipil dalam misi serupa, termasuk insiden beberapa minggu sebelumnya.

"Pengepungan militer ini menandai dimulainya kembali agresi ilegal di laut lepas," tulis mereka pada pernyataan bertanggal 18 Mei 2026.

GSF menegaskan bahwa seluruh peserta dalam armada tersebut adalah warga sipil tak bersenjata—termasuk tenaga medis, jurnalis, dan relawan—dan menyatakan bahwa tindakan intersepsi di perairan internasional melanggar hukum maritim dan prinsip kebebasan navigasi.

Tepat setelah pukul 10:30 di Siprus (07:30 GMT) pada Senin (18/5/2026), siaran langsung video di situs web GSF menunjukkan pasukan komando di atas kapal penyerbu mendekati sebuah kapal layar, kemudian menaikinya saat para penumpang mengangkat tangan mereka.

"Kapal-kapal militer saat ini sedang mencegat armada kami dan pasukan (Israel) menaiki kapal pertama kami di siang bolong," kata penyelenggara GSF dalam sebuah pernyataan.

"Kami menuntut jalur aman untuk misi kemanusiaan kami yang sah dan non-kekerasan," tambahnya.

"Pemerintah harus bertindak sekarang untuk menghentikan tindakan ilegal atau pembajakan ini yang dimaksudkan untuk mempertahankan pengepungan genosida Israel di Gaza."

Baca juga: Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara, Kecewa Tuntutannya Disamakan Korupsi Puluhan Miliar

Pada Senin (18/5/2026) sore, pihak penyelenggara mengumumkan bahwa pasukan Israel sejauh ini telah mencegat 16 kapal.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Israel telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mengizinkan pelanggaran apa pun terhadap blokadenya di Gaza, yang mereka tegaskan sah secara hukum, dan meminta flotila tersebut untuk berbalik arah.

"Sekali lagi, provokasi demi provokasi: apa yang disebut 'flotila bantuan kemanusiaan' lainnya tanpa ada bantuan kemanusiaan," kata sebuah unggahan di X. 

GSF mengatakan para aktivis di atas kapal membawa makanan, susu formula bayi, dan bantuan medis untuk warga Palestina di Gaza, lokasi dengan kondisi kehidupan sangat memprihatinkan dan sebagian besar dari 2,1 juta penduduknya mengungsi, meskipun ada gencatan senjata yang disepakati oleh Israel dan Hamas Oktober lalu.(*)

Sumber: Tribun Palu
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved