Rabu, 8 April 2026

OPINI

Dialog Imajiner Guru Tua Ingatkan Pentingnya Solidaritas

Menjelang pelaksanaan Haul ke-58 Al-Habib Idrus bin Salim Aldjufri atau Guru Tua, muncul pesan menyentuh berupa dialog imajiner

Editor: Lisna Ali
istimewa
Dialog Imajiner Bersama Guru Tua 

TRIBUNPALU.COM - Menjelang pelaksanaan Haul ke-58 Al-Habib Idrus bin Salim Aldjufri atau Guru Tua, muncul pesan menyentuh berupa dialog imajiner yang menekankan pentingnya solidaritas.

Pesan ini lahir dari kerinduan mendalam seorang cucu yang membayangkan percakapan batin bersama sang pencerah di tengah persiapan hari peringatan wafatnya tokoh besar tersebut.

Dalam dialog imajiner itu, Guru Tua digambarkan mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap dinamika internal yang tengah terjadi di tubuh perhimpunan Alkhairaat.

Beliau menekankan bahwa organisasi yang ia bangun dengan tetesan keringat dan air mata seharusnya menjadi pemersatu, bukan ajang perpecahan bagi para pengikutnya.

"Jid (kakek) berharap Alkhairaat menjadikan anak cucu dan abna’ul khairaat semakin kompak dan kokoh," tutur Guru Tua dalam narasi batin tersebut.

Baca juga: Hotel Morowali Beach Tawarkan Fasilitas Lengkap dan Spot Nongkrong dengan View Laut

Pesan itu mengingatkan kembali khittah perjuangan Alkhairaat yang murni untuk berdakwah mencari ridha Allah, bukan untuk mengejar harta maupun jabatan.

Guru Tua menyayangkan adanya oknum yang kini justru saling mencerca dan memutuskan tali silaturahmi hanya karena adanya perbedaan pendapat atau kepentingan.

Beliau menegaskan bahwa perbedaan pandangan seharusnya meluaskan wawasan, bukan justru memicu permusuhan yang dinilai kekanak-kanakan antar-sesama saudara.

Dalam nasihatnya, beliau meminta para pengikutnya untuk kembali mempelajari sejarah perjuangan dan menghayati bait-bait syair yang telah ia gubah selama masa hidupnya.

Baca juga: Polresta Palu Selidiki Kasus Penyiraman Air Keras ke Kendaraan

Terkait pelaksanaan haul, Guru Tua meminta agar acara tersebut diselenggarakan dengan penuh hikmat melalui pembacaan Yasin dan tahlil yang khusyuk.

Beliau juga memberikan peringatan agar mimbar haul tidak disalahgunakan sebagai ajang kampanye untuk kepentingan politik pribadi atau golongan tertentu.

"Nasihatku, lebih mendekatlah kepada Allah. Bacalah lagi lebih cermat sejarah perjuanganku dan kumpulan sya’ir-syairku yang sebagian telah dihimpun oleh Cucuku Saqqaf bin Muhammad dalam al-kaukabu al-dury. Pahami dan hayati maknanya, lalu amalkan," jelas dalam narasi tersebut.

Masyarakat dan abna’ul khairaat diminta untuk mengambil pelajaran dari para ulama yang zuhud, serta waspada terhadap provokasi kepentingan sesaat yang merusak.

Narasi imajiner ini ditutup dengan harapan agar peringatan Haul ke-58 menjadi momentum refleksi untuk memperkuat solidaritas dan menjaga marwah Alkhairaat.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved