Kamis, 16 April 2026

Sulteng Hari Ini

Wabah Malaria Campuran Vivax dan Falciparum Serang Parigi Moutong

Ia menerangkan, kasus pertama di Parimo berasal dari seorang pekerja tambang di wilayah Moutong pada Oktober 2024. 

Editor: Regina Goldie
ZULFADLI/TRIBUNPALU.COM
Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah mencatat jenis Malaria yang muncul bukanlah jenis baru, melainkan campuran (mix) antara vivax dan falciparum terjadi di Parigi Moutong.  

TRIBUNPALU.COM, PALU – Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah mencatat jenis Malaria yang muncul bukanlah jenis baru, melainkan campuran (mix) antara vivax dan falciparum terjadi di Parigi Moutong

Ada sebanyak 190 warga di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) terjangkit Malaria.

Kabid Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr Jumriani, mengatakan mayoritas penderita merupakan laki-laki usia produktif yang bekerja sebagai penambang.

“Dari 190 kasus itu, sebagian besar adalah laki-laki usia produktif, karena mereka bekerja sebagai penambang. Hingga kini belum ada pasien yang meninggal,” ujar Jumriani saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (12/9/2025).

Ia menerangkan, kasus pertama di Parimo berasal dari seorang pekerja tambang di wilayah Moutong pada Oktober 2024. 

Baca juga: Baru Dilantik, Kades Korowou Morowali Utara Hibahkan Tanah untuk Sekolah

Saat itu, pasien membawa parasit Malaria dari Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, yang tengah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Setelah ditelusuri, memang ada faktor pendukung, yaitu keberadaan nyamuk penular Malaria. Ketika nyamuk menggigit orang yang membawa parasit Malaria (carrier), lalu menggigit orang lain, penularan semakin meningkat,” jelasnya.

Menurut dia, penularan awalnya hanya terjadi di area tambang. 

Namun, karena para pekerja tambang berobat ke pemukiman, penyakit tersebut ikut menyebar ke masyarakat.

“Penyelidikan epidemiologi menemukan banyak genangan air di bekas galian tambang yang tidak lagi digunakan. Saat hujan, lokasi itu tergenang air dan menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Dari situlah kasus Malaria melonjak,” ungkapnya.

Lonjakan kasus kemudian mendorong Bupati Parimo menetapkan status siaga darurat KLB Malaria selama 30 hari sejak 14 Agustus hingga 12 September 2025.

Baca juga: DPRD Banggai Paripurnakan Tujuh Rancangan Perda

Jumriani menambahkan, pihaknya bersama pemerintah pusat telah menyalurkan rapid diagnostic test (RDT), kelambu berinsektisida, serta larvasida ke wilayah terdampak.

“Puskesmas juga sudah mengedukasi masyarakat agar tidur menggunakan kelambu, karena itu cara paling efektif mencegah gigitan nyamuk. Alternatifnya bisa menggunakan lotion atau obat anti-nyamuk, meskipun efeknya hanya bertahan beberapa jam,” tuturnya.

Ia menambahkan, tim provinsi dan kabupaten juga terus melakukan gotong royong membersihkan genangan air, menutup atau mengalirkan kubangan, serta memberikan larvasida.

Selain Parimo, peningkatan kasus Malaria juga tercatat di Kabupaten Poso, Sigi, dan Donggala, meski tidak signifikan.

(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved