Darurat Malaria Parimo
Moutong Jadi Episentrum Malaria di Parimo, 126 Kasus Tercatat
Menurutnya, dari 126 kasus di Moutong, sebanyak 50 pasien menjalani rawat jalan dan 76 pasien lainnya dirawat inap.
Penulis: Abdul Humul Faaiz | Editor: Regina Goldie
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Abdul Humul Faaiz
TRIBUNPALU.COM, PARIMO – Kecamatan Moutong menjadi episentrum atau daerah yang menjadi pusat penyebaran Malaria di Kabupaten Parigi Moutong sepanjang 2025.
Hingga September, tercatat 126 kasus dari total 200 kasus Malaria.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Parigi Moutong, Yunita Tagunu, mengatakan kasus pertama kali muncul di wilayah Moutong pada akhir 2024.
“Kasus awal setelah sertifikat eliminasi itu ditemukan di Kecamatan Moutong. Penularannya bersifat lokal, pasien tidak bepergian ke luar daerah,” kata Yunita, Selasa (23/9/2025).
Baca juga: Lewat Police Go To School, Polres Sigi Dorong Pelajar Jadi Pelopor Keselamatan
Menurutnya, dari 126 kasus di Moutong, sebanyak 50 pasien menjalani rawat jalan dan 76 pasien lainnya dirawat inap.
Kurva kasus Malaria di kecamatan itu mencapai puncak pada minggu ketiga Juni 2025.
Puncak lanjutan masih terjadi hingga September ini.
Yunita mengungkapkan, sekitar 80 persen kasus Malaria di Moutong berkaitan dengan aktivitas tambang rakyat.
Meski banyak penderita yang sebenarnya berprofesi sebagai petani, ibu rumah tangga, maupun pelajar.
Baca juga: Bupati Banggai Ingatkan PPPK Paruh Waktu Jaga Sikap dan Integritas
"Tapi mereka ikut bekerja di tambang, dan di situlah tertular,” jelasnya.
Kata dia, mayoritas penderita adalah laki-laki berusia di atas 30 tahun dengan gejala utama demam, sakit kepala, dan menggigil.
Dinas Kesehatan menemukan, kubangan bekas tambang menjadi sarang utama nyamuk Anopheles penyebab Malaria.
“Hasil pemeriksaan jentik menunjukkan kepadatan larva cukup tinggi di sekitar lokasi tambang Moutong,” ujar Yunita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/1000213464jpg.jpg)