Selasa, 12 Mei 2026

Sulteng Hari Ini

Pemprov Sulteng Tegaskan Proyek Masjid Raya Rampung 15 November 2025

Masjid megah ini memiliki sejumlah ikon, termasuk jam raksasa di depan kubah serta instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Robit Silmi | Editor: Fadhila Amalia
Robit/TribunPalu.com
PEMBANGUNAN MASJID RAYA BAITUL KHAIRAAT - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menegaskan proyek pembangunan Masjid Raya Baitul Khairat harus selesai paling lambat 15 November 2025. Penegasan ini disampaikan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Pembangunan Masjid Raya Sulteng, Dinas Cikasda, Caco Laratu saat ditemui di lokasi proyek, Rabu (1/10/2025) sore. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Robit Silmi

TRIBUNPALU.COM, PALU – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menegaskan proyek pembangunan Masjid Raya Baitul Khairat harus selesai paling lambat 15 November 2025.

Penegasan ini disampaikan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Pembangunan Masjid Raya Sulteng, Dinas Cikasda, Caco Laratu saat ditemui di lokasi proyek, Rabu (1/10/2025) sore.

Menurutnya, pekerjaan saat ini telah mencapai 98 persen. 

Baca juga: Nakertrans Sigi Dukung Riset Ekspedisi Patriot 2025 di Kawasan Transmigrasi Palolo

Sisa pekerjaan hanya tahap finishing, namun membutuhkan waktu ekstra untuk detail-detail penting.

Lanjut katanya kini kontrak perjanjian telah memasuki addendum ke-9 sekaligus yang terakhir. 

Batas addendum ke-9 jatuh pada 15 November 2025, setelah itu tidak diberlakukan kembali addendum.

"Kalau lewat sehari saja, langsung berlaku denda Rp370 juta per hari,” kata Caco.

Baca juga: Kasus Malaria Meningkat, Wabup Parigi Moutong Kaitkan dengan Tambang Ilegal

Ia menjelaskan, item pekerjaan yang tersisa meliputi pemasangan kaca patri, penyelesaian pasak kelor, tambahan ornamen, serta pagar bermotif daun kelor yang pengerjaannya cukup rumit.

“Alhamdulillah untuk pengerjaan aspal sudah selesai. Sekarang tinggal penyelesaian finishing,” ujarnya.

Caco menegaskan, keputusan tidak memperpanjang lagi waktu pengerjaan dilakukan demi memastikan kualitas sekaligus ketegasan terhadap kontraktor pelaksana, PT PP (Persero) Tbk.

“Apapun kenyataannya, proyek ini harus rampung. Tidak ada lagi alasan,” tegasnya.

Masjid Raya Baitul Khairat terletak di Jl Jaelangkara, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu. 

Baca juga: PAIR Sulawesi Kolaborasi dengan Pemprov Sulteng, Fokus pada Perubahan Iklim dan Kelompok Rentan

Dibangun di atas lahan 4 hektar, masjid megah ini memiliki sejumlah ikon, termasuk jam raksasa di depan kubah serta instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Pusat kuliner tetap ditempatkan di area depan halaman masjid sebagaimana rencana awal. 

Sementara dari sisi anggaran, proyek ini mengalami sedikit penyesuaian dari Rp375 miliar menjadi Rp376 miliar.

Diketahui proyek pembangunan ini ful menggunakan APBD Provinsi Sulawesi Tengah 

“Batas waktu sudah jelas. Kalau tidak selesai 15 November, maka sejak 16 November langsung berlaku denda,” pungkas Caco.

Cikal Bakal: Masjid Agung Darussalam

Masjid Raya Baitul Khairaat yang berdiri saat ini merupakan pembangunan kembali di lokasi bekas masjid bersejarah, yaitu Masjid Agung Darussalam Palu.

Pembangunan Awal: Peletakan batu pertama Masjid Agung Darussalam dilakukan pada tahun 1978 dan selesai secara keseluruhan sekitar tahun 2000.

Baca juga: PAIR Sulawesi Kolaborasi dengan Pemprov Sulteng, Fokus pada Perubahan Iklim dan Kelompok Rentan

Peran: Masjid ini telah lama menjadi pusat utama kegiatan keislaman, ibadah, dan peradaban umat di tingkat Kota Palu maupun Provinsi Sulawesi Tengah.

2. Peristiwa Penting: Gempa dan Tsunami 2018

Titik balik sejarah masjid ini terjadi saat bencana Gempa Bumi, Tsunami, dan Likuifaksi yang melanda Palu dan sekitarnya pada 28 September 2018.

Kerusakan Total: Masjid Agung Darussalam Palu mengalami kerusakan parah hingga total akibat guncangan gempa dan terjangan tsunami.

Simbol Kebangkitan: Meskipun rusak, masjid ini menjadi simbol kekuatan dan harapan bagi masyarakat Sulawesi Tengah untuk bangkit kembali.

3. Pembangunan Kembali dan Nama Baru

Setelah bencana, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memutuskan untuk membangun kembali masjid ini di lokasi yang sama dengan desain baru yang lebih modern, megah, dan tahan gempa.

Pembangunan Ulang: Proses pembangunan kembali dimulai beberapa tahun setelah bencana.

Masjid baru dirancang dengan fondasi tiang pancang yang kokoh dan material yang tahan gempa.

Kapasitas: Masjid yang baru dirancang untuk menampung hingga 10.000 jemaah.

Baca juga: Kumpulan Link Twibbon Hari Batik Nasional 2025 Kamis 2 Oktober: Cocok untuk Update Medsos

Peresmian Nama Baru: Pada 7 Februari 2025, Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura, meresmikan nama baru masjid ini menjadi Masjid Raya Baitul Khairaat.

Makna Nama "Baitul Khairaat"

Pergantian nama dari Masjid Agung Darussalam menjadi Masjid Raya Baitul Khairaat memiliki makna mendalam:

Baitul: Diambil dari kata Bayt yang berarti pusat kegiatan ibadah, rumah, atau tempat melakukan aktivitas ibadah.

Khairaat: Berarti keutamaan, kebenaran, dan keadilan, serta dimaknai sebagai segala bentuk kebaikan yang dapat dilakukan oleh setiap orang tanpa memandang strata sosial.

Secara keseluruhan, nama ini diharapkan menjadikan masjid sebagai "Rumah Kebaikan" dan pusat peradaban Islam yang membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat.
 
4. Arsitektur dan Keunikan

Masjid Raya Baitul Khairaat mengusung perpaduan antara arsitektur modern dengan sentuhan budaya Kaili (Suku asli Palu), serta berbagai simbol keagamaan yang unik:

Baca juga: Kumpulan Link Twibbon Hari Batik Nasional 2025 Kamis 2 Oktober: Cocok untuk Update Medsos

Jam Raksasa: Masjid ini memiliki jam raksasa dengan diameter besar (sekitar 19,5-20 meter) di bagian luar, yang diklaim menjadi salah satu jam masjid berdiameter terbesar di dunia.

Menara: Direncanakan memiliki dua menara dengan ketinggian tertentu (beberapa sumber menyebut 99 meter) sebagai penanda keagungan.

Ornamen: Desain eksterior dihiasi ornamen fasad daun kelor, yang merupakan simbol kearifan lokal.

Konsep Angka: Terdapat elemen arsitektur yang melambangkan angka-angka penting dalam Islam, seperti 17 kubah berbentuk mutiara (melambangkan 17 rakaat salat fardu) dan 99 profil jendela (melambangkan Asmaul Husna).(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved