Morowali Hari Ini
Dari Ketinggian, Tradisi Ndengu-Ndengu Ramaikan Sahur di Morowali
Bagian lantai menggunakan papan yang dipasang rapi sebagai pijakan bagi para pemuda yang beraktivitas di atas menara.
Penulis: Ismet Togean 20 | Editor: Fadhila Amalia
Ringkasan Berita:
- Tradisi Ndengu-ndengu di Bungku, Kabupaten Morowali, hadir setiap Ramadan untuk membangunkan warga sahur sekaligus menjadi simbol kebersamaan dan warisan budaya lokal.
- Aktivitas berlangsung di menara bambu setinggi 15 meter, tempat pemuda memainkan alat musik tradisional seperti gong, gulintang, dan rebana.
- Struktur menara dulunya dikenal sebagai Raha Sampela pada masa Kerajaan Bungku sebagai rumah pengawas, kini bertransformasi menjadi tradisi budaya.
Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Ismet
TRIBUNPALU.COM, MOROWALI - Tradisi Ndengu-ndengu menjadi pemandangan unik selalu hadir selama bulan Ramadan di wilayah Bungku dan sekitarnya, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Tradisi lokal ini tidak hanya berfungsi membangunkan warga untuk sahur, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan serta warisan budaya yang tetap terjaga hingga kini.
Dari atas ketinggian, aktivitas Ndengu-ndengu berlangsung di sebuah bangunan sederhana yang seluruh strukturnya didominasi bahan bambu.
Baca juga: 192 UMKM Lokal Kota Palu Ramaikan Pasar Ramadan hingga 18 Maret 2026
Batang bambu dijadikan tiang utama penyangga, sementara balok-balok berukuran kecil disusun sebagai rangka rumahnya.
Bagian lantai menggunakan papan yang dipasang rapi sebagai pijakan bagi para pemuda yang beraktivitas di atas menara.
Bangunan tersebut berdiri kokoh dengan ketinggian sekitar 15 meter dan luas kurang lebih satu meter persegi.
Struktur ini menjadi pusat aktivitas para pemuda yang memainkan alat musik tradisional.
Sebelum mencapai puncak Ndengu-ndengu, para pemuda harus menaiki tangga tradisional yang terbuat dari dua batang bambu sebagai rangka utama.
Pada bagian tengahnya dipasang potongan kayu berbentuk bulat sebagai pijakan.
Tangga sederhana tersebut menuntut keseimbangan dan kehati-hatian saat dinaiki.
Bagian atas bangunan beratapkan rumbia dan dihiasi lampu-lampu dekoratif yang memancarkan cahaya indah pada malam hari.
Baca juga: Kota Palu Dominasi Transaksi QRIS di Sulteng dengan 10 Juta Transaksi pada 2025
Ornamen berbentuk kubah masjid menambah nuansa religius sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang menyaksikan dari bawah.
Di atas menara bambu tersebut, berbagai alat musik tradisional seperti gong, gulintang, dan rebana dimainkan secara bersamaan.
Alat musik dipukul dengan irama berbeda namun harmonis, menghasilkan dentuman ritmis yang menggema hingga ke permukiman warga sebagai penanda waktu sahur.
Keseruan semakin terasa dengan keterlibatan pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Bahoruru.
| Bupati Morowali Ingatkan OPD Susun Program Berbasis Perencanaan, Bukan Sekadar Anggaran |
|
|---|
| Pemeriksaan BPK di Morowali, Bupati Tekankan Akuntabilitas dan Data Akurat |
|
|---|
| Pengecekan Propam di IMIP, Personel Diminta Jaga Integritas dan Kewaspadaan |
|
|---|
| Kapolres Morowali Lepas Personel Iktikaf, Tekankan Pembinaan Spiritual |
|
|---|
| IBR Cup Resmi Bergulir, Iriane Ilyas Tekankan Sportivitas dan Kebersamaan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Tradisi-Ndengu-Ndengu-di-Morowali-Budaya-Unik-Sahur-Ramadan-yang-Tetap-Terjaga.jpg)