Rabu, 13 Mei 2026

Sulteng Hari Ini

Pendampingan Arkom di Mamboro Jadi Contoh Pemulihan Pascabencana Berbasis Komunitas

Pada masa awal pascabencana 2018, sejumlah instansi pemerintah menghadapi kendala dalam proses pendataan akibat trauma petugas lapangan.

Tayang:
TribunPalu.com/Andika Satria Bharata
Peluncuran buku Pilah, Pilih, Pulih digelar di Swiss-Belhotel Silae Palu pada Jumat (6/3/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Pendekatan pemulihan berbasis komunitas oleh Yayasan Arkom Indonesia di Kelurahan Mamboro, Palu, menjadi contoh penting dalam rekonstruksi pascabencana di Sulawesi Tengah.
  • Pengalaman tersebut didokumentasikan dalam buku Pilah, Pilih, Pulih yang diluncurkan di Swiss-Belhotel Silae Palu pada Jumat (6/3/2026).

Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Andika Satria Bharata 

TRIBUNPALU.COM, PALU – Pendekatan pemulihan berbasis komunitas yang dilakukan Yayasan Arkom Indonesia di Kelurahan Mamboro, Kota Palu, menjadi salah satu contoh penting dalam upaya rekonstruksi pascabencana di Sulawesi Tengah.

Pengalaman tersebut turut didokumentasikan dalam buku “Pilah, Pilih, Pulih” yang diluncurkan dalam sebuah kegiatan yang digelar di Swiss-Belhotel Silae Palu pada Jumat (6/3/2026).

Salah satu kontribusi penting Arkom dalam proses pemulihan adalah membantu memperbaiki dan menyediakan data penyintas. 

Pada masa awal pascabencana 2018, sejumlah instansi pemerintah menghadapi kendala dalam proses pendataan akibat trauma petugas lapangan serta persoalan administrasi.

Di tengah situasi tersebut, Arkom telah memiliki data yang relatif akurat mengenai kondisi warga di Mamboro.

Data tersebut kemudian membantu memvalidasi penyaluran dana stimulan bagi masyarakat terdampak.

Baca juga: Buku Pilah, Pilih, Pulih Beredar di Palu, Dokumentasikan Pemulihan Pascabencana Berbasis Komunitas

Selain itu, Arkom juga membantu mengisi kekosongan informasi yang dialami masyarakat melalui berbagai media edukasi seperti selebaran yang menjelaskan kategori kerusakan rumah, ringan, sedang, dan berat, sehingga warga dapat memahami hak serta proses administratif dalam program pemulihan.

Pendekatan ini dinilai mampu mempertahankan ikatan sosial masyarakat.

Berbeda dengan model relokasi massal yang sering memindahkan warga ke kawasan baru yang heterogen, pola pendampingan berbasis komunitas memungkinkan warga tetap mempertahankan jaringan sosial yang telah lama terbentuk di lingkungan asal mereka.

Di Mamboro, pendekatan tersebut juga mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Karena itu, lokasi hunian tetap memperhatikan kedekatan dengan akses laut serta menyediakan ruang untuk aktivitas seperti menjemur ikan.

Pendampingan ini juga mendorong warga memanfaatkan material lokal yang lebih ramah lingkungan dan tahan gempa, sekaligus menggerakkan ekonomi setempat melalui metode konstruksi berbasis sumber daya lokal.

Namun demikian, model pemulihan berbasis komunitas juga memiliki tantangan karena membutuhkan waktu, energi, serta keterlibatan yang mendalam dari berbagai pihak.(*)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved