Sabtu, 2 Mei 2026

Sulteng Hari Ini

Perempuan Mahardika Soroti PHK Massal Ribuan Perempuan di Morowali Utara

Stevi menyebut bahwa sekitar 3.000 karwayan di PHK Massal oleh perusahaan di Morowali Utara.

Tayang:
Penulis: Supriyanto | Editor: Regina Goldie
Handover
Perempuan Mahardika Palu soroti pekerja perempuan yang mendapatkan PHK massal di dunia industri tambang di Morowali dan Morowali Utara. 
Ringkasan Berita:
  • Aktivis Perempuan Mahardika Palu, Stevi R. Papuling, dalam aksi Hari Buruh di Palu menyoroti sekitar 3.000 pekerja—terutama perempuan—yang terkena PHK massal di industri tambang Morowali Utara. 
  • Ia mengkritik pemerintah daerah dan Gubernur Anwar Hafid karena dinilai kurang mengawasi industri ekstraktif dan abai terhadap dampaknya.

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Supriyanto Ucok

TRIBUNPALU.COM, PALU - Perempuan Mahardika Palu soroti pekerja perempuan yang mendapatkan PHK massal di dunia industri tambang di Morowali dan Morowali Utara.

Hal itu disampaikan Stevi R Papuling di atas mobil sound saat berorasi dalam perayaan Hari Buruh Internasional di depan kantor Gubernur Sulteng Jl Sam Ratulangi Kelurahan Besusu Tengah, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu pada Jumat (1/5/2026).

Dalam orasinya, Stevi menyebut bahwa sekitar 3.000 karwayan di PHK Massal oleh perusahaan di Morowali Utara.

"Tapi pemerintah daerah tidak memperhatikan itu," tegas Stevi.

Ia juga menyinggung Gubernur Sulteng, Anwar Hafid yang sebelumnya memimpin Kabupaten Morowali.

Ia menilai, Anwar Hafid gagal mengawasi proyek-proyek industri ekstraktif yang saat ini telah menelan banyak korban hingga meregang nyawa.

Baca juga: Kronologi Dugaan Pelecehan Atlet Panahan Palu saat Latihan Rutin

Sebagai perwakilan kaum perempuan, ia juga menyoroti soal program Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang katanya akan menyerap kaum perempuan sebagai pekerja.

Namun nyatanya, dapur MBG di Kota Palu didominasi oleh militer sebagai pengawas dan menutup celah para kaum perempuan untuk bekerja.

"Mereka tidak pernah melihat lapisan-lapisan apa saja yang dialami perempuan," tegas aktivis perempuan itu.

Ratusan massa aksi menggelar unjuk rasa di Depan kantor Gubernur Sulteng dalam perayaan May Day atau Hari Buruh Internasional yang diperingati tiap tanggal 1 Mei.

Hari Buruh Internasional diperingati sebagai momentum kemerdekaan buruh pada akhir abad ke-19 yang menuntut jam kerja selama 8 jam dan digunakan sampai hari ini.

Dalam momentum hari buruh kali ini, Advokat Rakyat Agussalim mengatakan bahwa momen Mayday sebagai perayaan dari hak-hak normatif dan Hak Asasi Manusia (HAM). (*)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved