Podcast DPRD Morowali
Muhammad, Politisi Milenial Morowali Bawa Perubahan untuk Morowali
Setelah memutuskan menyudahi kariernya di perusahaan provider nasional, ia kembali ke kampung halaman.
Ringkasan Berita:
- Muhammad, 38 tahun, seorang sarjana Informatika asal Bandung, kini menjadi anggota DPRD Kabupaten Morowali dari Partai Nasdem.
- Setelah meninggalkan karier di perusahaan telekomunikasi nasional, ia kembali ke kampung halamannya karena prihatin dengan ketimpangan sosial di Morowali, di mana sumber daya alam melimpah namun masyarakat lokal banyak yang belum sejahtera.
TRIBUNPALU.COM - Siapa sangka seorang sarjana informatika yang terbiasa berkutat dengan jaringan telekomunikasi di kota besar seperti Bandung dan Jakarta, kini justru memilih jalan terjal sebagai politisi di tanah kelahirannya.
Muhammad, anggota DPRD Kabupaten Morowali dari Partai Nasdem.
Di usia yang masih tergolong muda, yaitu 38 tahun, pria yang baru menduduki kursi parlemen selama satu tahun lebih ini dikenal sebagai salah satu legislator yang sangat vokal dalam memperjuangkan hak-hak dasar masyarakat Morowali, khususnya di Daerah Pemilihan Bungku Barat Bumi Raya.
Keputusan Muhammad untuk merantau pulang dan terjun ke dunia politik bukan tanpa alasan.
Setelah memutuskan menyudahi kariernya di perusahaan provider nasional, ia kembali ke kampung halaman dan diajak berkeliling wilayah Morowali oleh keluarganya.
Di sanalah mata dan hatinya terbuka melihat realitas sosial yang kontras, di mana Morowali dikenal secara nasional memiliki sumber daya alam yang sangat besar, namun di sisi lain masih banyak masyarakat lokal yang belum tersentuh oleh kesejahteraan.
Ia mengenang bagaimana wilayah kepulauan di Morowali, Sulawesi Tengah sempat tidak menikmati aliran listrik secara penuh, yang berdampak langsung pada para nelayan karena mereka terpaksa menjual hasil laut dengan harga murah akibat ketiadaan fasilitas pendingin.
Baca juga: 40 KK Terdampak Banjir di Desa Gunung Sari Parigi Moutong
Masalah serupa juga terjadi di sektor pertanian, di mana produk lokal kalah bersaing dengan daerah lain karena minimnya modernisasi alat serta kurangnya pelatihan bagi para petani.
Kondisi tersebut menggerakkan hati Muhammad untuk membantu secara swadaya, mulai dari mendampingi kelompok tani dan nelayan menyusun proposal bantuan hingga memfasilitasi administrasi ke dinas terkait, bahkan sebelum ia terpilih menjadi anggota dewan.
Meski langkahnya sempat mendapat kekhawatiran dari pihak keluarga yang tidak ingin dirinya menghadapi kerasnya dunia politik, tekad alumnus Informatika Bandung ini sudah bulat.
Muhammad menyadari bahwa membantu sesama lewat jalur swasta atau dunia usaha memiliki batas yang kaku karena tidak disokong oleh regulasi.
Baginya, menjadi bagian dari parlemen memberikan ruang yang jauh lebih luas untuk mengintervensi anggaran dan melahirkan kebijakan yang berpihak pada kemaslahatan masyarakat banyak.
Kini setelah duduk di parlemen, salah satu isu paling mendesak yang terus dikawalnya adalah dampak industri tambang terhadap ruang hidup masyarakat sekitar.
Muhammad menyoroti fenomena ganti untung lahan pertanian warga yang diambil alih perusahaan, yang kerap menyisakan masalah baru karena warga kehilangan mata pencaharian jangka panjang.
| Dari Trotoar ke Parlemen, Kisah Asgar Wahab Merajut Asa di DPRD Morowali |
|
|---|
| Empat Periode di DPRD Morowali, Aminuddin Awaludin Bagikan Cerita Awal Mula Terjun Dunia Politik |
|
|---|
| Dari ASN ke DPRD, Ini Perjalanan Jejak Karier Aminuddin Awaluddin di Morowali |
|
|---|
| Politisi Muda Morowali, Yopie Sabara Bawa Solusi untuk Lonjakan Penduduk dan Infrastruktur |
|
|---|
| Profil Inspiratif Sultanah Hadie, Wakil Ketua DPRD Perempuan Visioner |
|
|---|