Senin, 1 Juni 2026

Banggai Hari Ini

Mengunjungi Dusun Mumpe, Melihat Komunitas Adat Menjaga Air

Mumpe dihuni sekitar 60 Kepala Keluarga di Desa Doda Bunta, Kecamatan Simpang Raya, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Alisan | Editor: Fadhila Amalia
Alisan/TribunPalu/Alisan
DUSUN MUMPE BANGGAI - Pagi di Dusun Mumpu, Desa Doda Bunta, Kecamatan Simpang Raya, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Minggu (31/5/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Dusun Mumpe di Kabupaten Banggai memiliki sumber mata air melimpah yang mengalir langsung ke rumah-rumah warga dan menjadi penopang kehidupan sekitar 230 jiwa.
  • Kawasan Bulutumpu menjadi hulu sejumlah aliran air penting, termasuk yang mengalir ke Sungai Bunta, Batui, dan wilayah Nuhon.
  • Warga mulai khawatir terhadap rencana aktivitas tambang nikel yang dinilai berpotensi mengganggu kelestarian hutan dan sumber mata air yang selama ini menopang kebutuhan hidup serta pertanian masyarakat.

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Alisan Lasande

TRIBUNPALU.COM, BANGGAI - Tanah basah dan aroma hutan menyambut di Mumpe.

Kabut di atas pepohonan muncul di hutan rapat yang melindungi komunitas adat ini.

Mumpe dihuni sekitar 60 Kepala Keluarga di Desa Doda Bunta, Kecamatan Simpang Raya, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Baca juga: Sarwendah Bantah Ruben Onsu Nafkahi Anak Rp200 Juta, Sebut 6 Bulan Absen Kirim Uang

Menginjakkan kaki di kawasan ini setelah melewati bentangan jembatan gantung di atas Sungai Bunta. 

Lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar satu jam.

Menjejaki jalan selebar dua meter,

Di rumahya, Lasarus menyambut hangat di tengah sergapan gigil. 

Gemercik dari selokan-selokan menambah ketenangan di Sabtu (30/5/2026) sore itu. 

Tanda melimpahnya air yang datang dari pegunungan.

Di dapur-dapur seperti di rumah Lasarus, air mengalir lancar. Tanpa kebisingan mesin pompa.

Lasarus menceritakan, di balik dusun memang terdapat mata air yang dialirkan ke rumah-rumah warga. 

Aliran air di kebun Ketua Adat Mumpe, Salina Langkumo, bukti terjaganya air di Mumpe.

Di sini, air dari dalam tanah ditampung untuk kebutuhan tanaman.

Baca juga: Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia, Eks Menhan Era Jokowi Disemayamkan Pagi Ini

Lalu mengalir ke rimbunan pohon sagu. Tanaman yang dikenal penyimpan air.

Tanpa penyaring, tapi layak digunakan mandi.

Ayub (53), warga Dusun Mumpe mengakui keberlimpahan mata air di dusunnya.

“Air sepe begitu, Ditampung dulu, kemudian pakai slang ke rumah,” katanya.

Ayub mengatakan, jauh di atas Mumpe ada danau cukup jembar dikelilingi pepohonan.  Sejak dulu, disebut kawasan Bulutumpu.

Dari danau, air berjalan jauh sampai ke sungai di Kecamatan Batui, Lobu.

Selain itu, ke Desa Balingara, Kecamatan Nuhon, dan sungai Bunta yang dibentangkan jembatan gantung untuk ke Mumpe.

“Induknya di sana, dari Bulu Tumpu,” tuturnya.

Ayub menuturkan, kawasan Bulutumpu lama tak bisa dijangkau.

“Orangtua kami dulu pernah ke atas,” katanya.

Pepohonan di atas berbeda dengan di sekitar Dusun Mumpe.

“Sampai di atas kayu sudah pendek, kabut, dingin,” katanya.

Baca juga: Sempat Diisukan Hamil, Adhisty Zara Mendadak Umumkan Pernikahan dengan Tsaqib, Pamer Perut Membesar

Lasarus juga menuturkan, kawasan Bulutumpu sangat dijaga. Kayu gaharu tumbuh subur di sana.

Mata air yang mengalir ke dapur-dapur rumah juga sangat terawat, terutama pohon-pohon pengikat.

Namun, akhir-akhir ini, Lasarus gelisah. Khawatir Bulutumpu sampai mata air yang menghidupi 230 jiwa tak lagi jernih.

Lantaran sumber daya alam yang tak dapat diperbarui itu, berpotensi terganggu tambang nikel.

Sebab, rumah sampai tabungan pangan di kebun tak lepas dari air.

“Kalau jadi, bisa-bisa kekeringan,” tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved