Soal Pengungsi yang Dikeluarkan dari Huntara, Pemkot Menduga Ada Kekeliruan Pendataan
Menanggapi hal itu, Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Said alias Pasha Ungu menyakinkan, tidak ada pengungsi yang dikeluarkan dari huntara.
Penulis: Haqir Muhakir |
Tanpa menunggu lama, Ros bersama keluarga sesegera mungkin mengemas barang untuk dipindahkan lagi ke tenda pengungsian.
Kenikmatan merasakan hunian layak seketika berakhir setelah mendapatkan arahan dari pihak kelurahan.
Hari-hari kembali mereka rasakan di atas lantai tanah berbatu beralaskan terpal.
Dinginnya dataran tinggi Duyu, menambah pederitaan yang mereka rasakan.
"Belum lagi kalau hujan, pasti masuk air," keluhnya.
Belum lagi persoalan air. Untuk kebutuhan cuci dan mandi mereka masih kesulitan karena sudah tiga minggu terakhir mobil tangki tak kunjung tiba.

Ros masih bingung dengan kebijakan pemerintah. Pasalnya, kata dia, ada sebagian warga yang dulunya mengontrak tapi diberikan huntara.
Ros berharap keinginannya dan sebagaian pengungsi yang masih tinggal di tenda bisa dikabulkan sambil memulihkan kondisi perekonomian keluarga mereka.
"Kita memang kan tidak punya tanah, kalau huntap itu tidak usah lah, cukup hunian sementara saja," harapnya.
Namun sayangnya permohonan mereka belum dikabulkan.
Mereka hanya bisa pasrah, menunggu jika ada kebijakan baru dari pemerintah setempat.
"Kami tidak bisa juga menuntut apa-apa karena itu keputusan pemerintah," tuturnya.
Di kamp pengungsian, Ros mengaku kadang dianak tirikan. Pasalnya jika ada bantuan masuk, mereka selalu mendapat sisa bantuan dari huntara.
Padahal, sebelumnya pemerintah setempat sempat menyatakan mengutamakan bagi warga yang masih tinggal di pengungsian.
Bahkan, mereka tidak dapat bantuan itu.