Wawancara dengan Ajudan BJ Habibie, Albiner Sitompul: Saya Temani Bapak karena Ingin Belajar

Albiner Sitompul mengawal BJ Habibie dan Ibu Hasri Ainun Habibie saat tinggal di Jerman.

Wawancara dengan Ajudan BJ Habibie, Albiner Sitompul: Saya Temani Bapak karena Ingin Belajar
TRIBUNNEWS/Srihandiatmo Malau
Mantan pengawal Presiden Ketiga RI BJ Habibie, Albiner Sitompul (batik, berkopiah putih), berfoto bersama kru Tribunnews.com di kantor redaksi Tribunnews.com, Jakarta, Kamis (13/9/2019). 

Itu saat saya mau berpisah dengan Bapak. Saat itu saya mendapat perintah untuk sekolah di Sesko. Saya harus berpisah. Yang saya nggak tahan itu dari mbak Widya Leksmanawati (istri dari putra sulung Habibie, Thareq Kemal Habibie -red), "Nggak sayang dengan Bapak?"

Terus waktu itu kita di Paris, Prancis. Waktu itu ada pameran mobil. Bapak juga pernah tanya ke saya, Tompul, "Nggak sayang sama bapak?" "Saya, sayang, Pak. Tapi saya harus laksanakan perintah tugas, Pak."

Saat itu bapak bilang, kau itu bukan kromosomku. Tapi kau anakku.' (Tangan kanannya menepuk punggung tangan kirinya, suaranya terbata-bata, matanya tampak basah).

Sejak itu saya enggak mau dekat. Ketika itu saya harus menjaga diri, jangan terlalu dekat, aku takut. Sampai ketika saya menjaga Pak Jokowi sebagai kepala biro, saya harus menjaga jangan sampai Pak Jokowi tahu kalau saya dekat dengan Pak Habibie. Enggak bisa lupa, selalu itu yang terkenang. Itu, menurut saya, sesuatu yang sangat mengena dan membuat saya sangat tersentuh dan terkenang hingga sekarang. (Albiner meneteskan air mata ketika mengenang ucapan Habibie itu). Itu selalu saya kenang, tidak bisa saya lupa itu.

Rangkaian prosesi pemakaman BJ Habibie digelar Kamis (12/9/2019) siang ini pukul 14.00 WIB, orang pertama yang turunkan jenazah hingga dimakamkan di samping Ainun.
Rangkaian prosesi pemakaman BJ Habibie digelar Kamis (12/9/2019) siang ini pukul 14.00 WIB, orang pertama yang turunkan jenazah hingga dimakamkan di samping Ainun. (KOMPAS.com/TOTOK WIJAYANTO)

Apa yang buat Pak Habibie begitu nyaman dan percaya sama Pak Tompul?

Saya juga nggak tahu. Mungkin karena saya pakai hati menjalankan tugas mengawal bapak dan ibu. Tapi mungkin itu sejak waktu itu Ibu sakit dan dirawat di rumah sakit Elizabeth, di Singapura. Dan saya harus jaga. Ya mungkin dari situ. Ya, mungkin seperti tadi, itu karena dari hati. Saya pernah ditanya bapak. "Tompul, mengapa kamu mau mengawal Bapak? Kenapa mau temani Bapak? Apakah karena Bapak orang kaya? Apakah karena Bapak mantan Presiden?" "Nggak, Pak. Bapak itu profesor, jadi saya mau belajar banyak dari Bapak." Itu jawaban saya waktu itu.

Berikutnya bapak juga baru tahu bahwa saya juga pernah kuliah teknik mesin. Jadi ada kemiripan juga terkait teknik. Waktu masih ada, Ibu itu sering mengaji dan mengaji. Waktu terakhir bertemu, Bapak bilang, "Saya sekarang rajin mengaji, Tompul." 

Pelajaran hidup apa sih yang Pak Habibie berikan kepada Pak Tompul, yang masih terkenang?

Jangan kamu memaksakan kehendakmu di dalam perbedaan, tapi kau kerjakan pekerjaan itu dengan cepat, tepat dan tuntas. Karena waktu berjalan terus. Dan jangan sok jadi pahlawan.

Bapak banyak menyampaikan mengenai itu. Khususnya mengenai perbedaan. Bapak Habibie dengan Ibu pernah ajari saya. Ketika itu anak pertama saya lahir tahun 2000. Saya merasa ada sesuatu, saya waktu itu di Jerman, bukan cemberut saya tapi tengah memikirkan itu. Saya waktu itu diajarkan sama Bapak dan Ibu untuk tersenyum. "Tompul senyum, Tompul senyum." 
Dari situ, aku dapat belajar, hadapi dengan senyum, merindu ya, mau pulang saya enggak boleh. Anak lahir, untunglah waktu itu mertua. "Pak tolong jagain anak saya lahir. Saya di Jerman, anak saya lahir." Saya diajari senyum menghadapi situasi itu.

Halaman
1234
Editor: Rizkianingtyas Tiarasari
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved