Breaking News:

Studi WHO Sebut Remdesivir Hanya Berdampak Kecil dalam Mencegah Kematian Pasien Covid-19

Studi terbaru WHO memaparkan, Remdesivir memiliki efek sangat kecil untuk mencegah kematian akibat Covid-19.

trialsitenews.com
ILUSTRASI obat Remdesivir. 

TRIBUNPALU.COM - Remdesivir merupakan satu dari sejumlah obat yang digunakan untuk menangani pasien yang terinfeksi virus corona Covid-19.

Namun, studi terbaru WHO memaparkan, Remdesivir memiliki efek sangat kecil untuk mencegah kematian akibat Covid-19.

Mengutip The Guardian, Remdesivir merupakan obat yang diproduksi oleh perusahaan bioteknologi AS, Gilead.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat mempromosikan Remdesivir sebagai obat potensial unttuk Covid-19.

Sebuah uji coba di AS kemudian menunjukkan Remdesivir dapat mengurangi waktu pasien Covid-19 menjalani perawatan di rumah sakit.

Namun, berdasarkan uji coba Solidaritas WHO, berdasar sampel dari 3.000 orang yang memakai Remdesivir, obat tersebut memiliki sedikit efek pada kematian selama 28 hari.

Baca juga: Sebut sang Paman Terlalu Sembrono Soal Covid-19, Keponakan Trump: Dia Ingin Terlihat Kuat

Baca juga: Doa PM Palestina Jika Donald Trump Menang Pemilu AS 2020: Tuhan, Tolong Kami dan Seluruh Dunia

Baca juga: Positif Covid-19, Presiden AS Donald Trump: Itu Adalah Berkah dari Tuhan

Ilustrasi remdesivir yang digunakan sebagai obat Covid-19. PT Kalbe Farma siap memasarkan produk remdesivir bernama Covifor.
Ilustrasi remdesivir yang digunakan sebagai obat Covid-19. PT Kalbe Farma siap memasarkan produk remdesivir bernama Covifor. (Tribun Palu)

10 hari sebelum publikasi, Gilead diberi tahu tentang hasilnya pada 23 September 2020 dan diberi draf pertama kajian studi itu pada 28 September 2020.

WHO mengatakan, perusahaan telah diberitahu hasilnya sebelumnya sebagai bagian dari kesepakatan untuk menyediakan obat secara gratis.

Pada 8 Oktober 2020, Gilead menandatangani kontrak untuk 500.000 dosis obat dengan komisi Eropa, yang tidak mengetahui hasilnya, dengan biaya € 850 juta (£ 733 juta).

"Kesepakatan untuk mengungkapkan hasil kepada perusahaan sebelum dipublikasikan dilakukan pada awal uji coba," kata Dr Soumya Swaminathan, kepala ilmuwan di WHO.

Halaman
123
Editor: Rizkianingtyas Tiarasari
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved