Imlek 2021

Sejarah Vihara Magabudhi Palu: Tertua di Sulawesi Tengah, Paling Ramai Setiap Imlek

Klenteng Kwan Im Miau adalah nama tempat ibadah ini sejak pertama kali dibangun pada tahun 1942

Editor: Haqir Muhakir
TRIBUBPALU.COM/NUR SALEHA
Suasana Viara Magabudhi Palu persiapan menyambut tahun baru Imlek 2021, Senin (8/2/2021). 

Berjarak sekitar 750 meter dari Tugu Nol Jl Hasanudin Kota Palu.

Phan A Lin adalah orang yang mendirikan tempat ibadah ini pada tahun 1942.

Dia adalah orang asli kelahiran Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

"Awal dibangun klenteng ini untuk tempat ibadah keluarga, kemudian dijadikan tempat ibadah umum untuk masyarakat yang percaya agama Budha," jelas Kusnadi Lukisna, pengurus Vihara Magabudhi Palu.

Meski sudah berumur 79 tahun, terlihat bangunannya masih kokoh dan tertata rapi.

Selain itu, vihara ini memiliki beberapa patung Budha.

Patung Budha itu terdiri dari: Patung Dewi Kwan Im, Sheng Wang Gong, Guan Gong, Mi Le Fo, San Bao Gong, Sang Budha, Di Ye Gong, Su Zhi Gong, Wie Too Poo Sat, dan Patung Budha Thailand Sidata Gautama.

Tak hanya itu, Cham-Si Guan Yin atau kertas sembahyang dan patung-patung sembahyang juga tersimpan rapi di dalam lemari kaca.

Prakiraan Cuaca BMKG Selasa, 9 Februari 2021: 20 Provinsi Ini Waspadai Terjadi Cuaca Ekstrem

Ramalan Zodiak Cinta Jomblo Selasa 8 Februari 2021:Virgo jadi Pusat Perhatian, Libra Sedang Insecure

Hindari Kluster Pendidikan, Pembelajaran dan Pendaftaran SMA Sederajat Tahun 2021 Masih Daring

Vihara yang sering disebut masyarakat adalah klenteng menjadi pusat kegiatan perayaan imlek teramai setiap tahunnya.

Vihara ini selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang ingin beribadah, tapi semenjak pandemi Covid-19 pengunjung dikurangi.

Nuansa tersaji identik dengan warna merah dan emas, patung Dewi Kwan Im dihiasi bunga yang tergantung kertas angpao dan lampion berukuran mini, bau-bau dari dupapun sangat khas di vihara Magabudhi.

Warna merah adalah ciri khas dari klenteng, dan dipercayai sebagai hal mendatangkan rezeki dan hal baik lainnya.

Terdapat lilin sembahyang, ukuran 1,5 m dan lingakaran lilin sekitar 30 cm dengan harga sepasang yaitu puluhan juta rupiah, dikirim langsung dari Surabaya.

Dalam kepengurusan klenteng ini, terdapat lima orang panitia, dan setiap tahun melakukan pergantian anggota.

Klenteng ini dijaga Amir selama 30 tahun hingga sekarang.(*)

Sumber: Tribun Palu
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved