Sulteng Hari Ini
Dampak Penambangan Emas, Warga di Desa Buranga Parimo Kehilangan Air Bersih
Ada 18 alat berat beroperasi selama 1x24 jam di tiga dusun di Desa Buranga. Hal ini telah dilaporkan ke pemerintah setempat.
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Fandy Ahmat
TRIBUNPALU.COM, PALU - Aktivitas tambang emas di Desa Buranga, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mulai dikeluhkan warga.
Salah seorang warga, Ardiansyah mengatakan sumber air di desanya menjadi keruh dan tidak bisa dikonsumsi lagi.
"Kami tidak bisa lagi menggunakan air bersih karena bercampur lumpur," kata Ardiansyah kepada TribunPalu.com, Kamis (11/2/2021).
Ardiansyah menjelaskan, aktivitas pertambangan di Desa Buranga ada sejak tiga bulan lalu.
• Khawatir Banjir, Warga Tolak Tambang Emas di Desa Buranga Parimo
• 145 Nakes Eks Pasien Covid-19 di RSUD Undata Jadi Pendonor Plasma Darah
• Tangani Sampah di Palu, Kadis Pernah Pakai Dana Pribadi dan Berutang untuk Beli BBM
Ada 18 alat berat beroperasi selama 1x24 jam di tiga dusun di Desa Buranga.
"Membawa dampak kerusakan lingkungan, khususnya bagi masyarakat Dusun 4, 5 dan 6," sebutnya.
Hal ini telah dilaporkan ke pemerintah setempat untuk ditindaklanjut secara hukum.
Ardiansyah berharap pemerintah berperan tegas dalam menertibkan penambangan liar di Desa Buranga.
"Warga tinggal disekitar sungai itu, jadi selama ini memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari," tutur Ardiansyah.
"Sekarang kalau air itu dipakai mandi, ya badan terasa gatal. Hewan ternak saja tidak mau lagi minum di sungai itu, apalagi kami manusia," tambahnya.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulteng, Abd Haris Lapabira menyoroti aktivitas industri tambang di sejumlah wilayah Sulteng.
Menurutnya, maraknya aktivitas industri berbasis Sumber Daya Alam (SDA) seperti tambang jadi pemicu utama banjir.
• Wali Kota Hidayat Klaim Ruang Tahanan Polres Palu Aman dari Gempa
• 885 Polisi dan 101 TNI Disiagakan jadi Tracer Covid-19 di Sulawesi Tengah
• Ribuan Tenaga Kesehatan ikut Vaksinasi di RSUD Undata Palu
"Liberalisasi di bidang ekonomi membawa dampak cukup banyak. Terjadinya banjir salah satu akibat dari industrialisasi," ujar Haris, dikutip Jumat (5/2/2021).
Di Sulteng, data dihimpun TribunPalu.com, telah terjadi 24 kali banjir sepanjang 2020.
Kabupaten Sigi menjadi daerah paling rentan dengan 5 kejadian.
Disusul Kabupaten Buol, Poso, Tolitoli dan Parigi Moutong sebanyak 3 kejadian.
Selanjutnya Kabupaten Morowali Utara, Donggala dan Banggai sebanyak 2 kejadian, serta Morowali dengan 1 kejadian. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/tambang-parimo-1.jpg)