Breaking News:

All England 2021

Apa Itu All England? Laga Badminton Paling Bergengsi dan Kisah Kontroversi Liem Swie King Sebelumnya

Apa itu All England? Disebut sebagai ajang badminton paling bergengsi dengan kisah kontroversi Liem Swie King yang tak terungkap hingga saat ini.

allenglandbadminton.com
Liem Swie King dan Rudy Hartono di All England 1976 

Keputusan BWF dan penyelenggara All England, Badminton England ini tentu saja menimbulkan kontroversi lantaran sebelumnya ada kasus positif Covid-19 di Arena Birmingham.

Beruntung All England 2021 tetap digelar karena tujuh kasus tersebut dinyatakan false positive.

Dan tujuh orang yang terlibat tersebut diperbolehkan melangsungkan pertandingan tanpa melakukan isolasi mandiri.

Hal tersebut yang membuat tim Indonesia merasa tidak adil dengan keputusan Badminton England.

Sebab, 24 anggota tim Indonesia sudah melakukan tes Covid-19 sesampainya di hotel Birmingham.

Semuanya dengan hasil negatif Covid-19.

Tetapi, tiba-tiba tim Indonesia mendapatkan email dari Pemerintah Inggris untuk melakukan isolasi mandiri selama 10 hari.

Dengan kata lain, tim Indonesia harus mundur dari All England yang notabene menjadi ajang penentuan langkah atlet Indonesia mengamankan posisi di Olympic Tokyo.

Momen tersebut hanyalah satu dari banyak kisah bulutangkis Indonesia di citra dunia.

Jauh sebelumnya, ada sebuah kisah kontroversial lain pada laga final All England 1976.

Pertandingan tunggal putra sesama Indonesia di final All England pada 1976 tersebut masih menyimpan misteri besar bagi para pecinta bulutangkis Tanah Air.

Partai puncak All Indonesian Final yang mempertemukan dua legenda, Rudy Hartono kontra Liem Swie King, menimbulkan banyak tanda tanya.

Sedang dalam performa terbaiknya Liem Swie King justru meleset dari dugaan lantaran kalah dengan mudah dari Rudy Hartono dengan skor 7-15 dan 5-15.

Dalam dua set langsung dan dengan selisih skor yang lebar membuat dunia bulutangkis sangsi.

Kontroversi tentang partai final tersebut juga mendapat porsi istimewa di buku "Panggil Aku King" yang ditulis Robert Adhi KSP.

Cover Panggil Aku King
Cover Panggil Aku King (istimewa)

Baca juga: Siapa Penumpang yang Bikin Tim Indonesia Dipaksa Mundur dari All England 2021?Ini Kata Ricky Subagja

Pada cover belakang bulu itu tercantum pertanyaan tentang final kontroversial itu.

"Dalam final All England 1976, Liem Swie King "kalah" dari Rudy Hartono.

Rudy menjadi juara ke delapan kali.

Apa yang terjadi sebenarnya?

Benarkah Liem Swie King diminta mengalah?

Mengapa pemilik PB Djarum, Budi Hartono, kecewa pada penampilan King waktu itu?"

Pertanyaan itu selaras dengan disangsikan pecinta bulutangkis Tanah Air.

Saat itu Liem Swie King diyakini diminta untuk mengalah kepada Rudy Hartono yang merupakan seniornya di Pelatnas.

Apalagi di kemenangan tersebut membawa Rudy Hartono untuk menciptakan sejarah baru.

Yakni, sebagai pemain yang paling banyak mengoleksi gelar juara All England di sektor tunggal putra hingga sebanyak delapan kali.

Liem Swie King dan Rudy Hartono di All England 1976 -
Liem Swie King dan Rudy Hartono di All England 1976 - (allenglandbadminton.com)

Baca juga: Tanpa Endo/Yuta, Ini 5 Ganda Putra Paling Berpengaruh Sedekade, BWF: Marcus/Kevin Pembawa Level Baru

Namun kini yang menjadi pertanyaan, jika analisis tersebut memang benar, siapakah pihak yang meminta Liem Swie King mengalah?

Salah satu kecurigaan mengarah pada Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Tapi, hingga sekarang tak ada bukti yang membenarkan dugaan tersebut.

Kecurigaan ada pengaturan hasil pertandingan final itu muncul bukan tanpa alasan.

Pada All England 1976, Liem Swie King sedang pada performa terbaik, sehingga melaju mulus tanpa hambatan.

Bahkan saat itu King mampu menyingkirkan pemain-pemain kuat, Sture Johnson di semifinal dan Svend Pri di perempat final.

Kedua pertandingan tersebut dilalui King tanpa hambatan berarti.

Liem Swie King
Liem Swie King (Istimewa)

Baca juga: Selamat! Marcus Gideon dan Ahsan Dikaruniai Putri di Hari yang Sama, Kevin Sanjaya Beri Kado Ini

Keadaan terbalik justru dialami Rudy Hartono yang harus menguras keringat saat berhadapan dengan pebulutangkis asal Denmark, Flemening Delfs, di babak semifinal.

Rudy Hartono pun tampil di final dalam kondisi kalah bugar dibanding sang junior di partai puncak.

Di atas kertas, Liem Swie King sangat diunggulkan untuk bisa menjadi juara All England dengan mengalahkan Rudy di partai final.

Namun, performa Liem Swie King yang impresif di babak perempat final dan semifinal tidak terlihat ketika berhadapan dengan Rudy Hartono di partai puncak.

Dia dianggap bermain setengah hati sehingga Rudy Hartono bisa menang dengan relatif mudah.

Pada buku "Panggil Aku King", Liem Swie King mengaku diomeli habis-habisan oleh pemilik Djarum, Budi Hartono, saat tiba di Indonesia.

"Pak Budi merasa heran mengapa pertandingan selesai begitu cepat dan aku terlihat tidak bersemangat melawan Rudy Hartono. Budi mengatakan bahwa dia melatihku susah payah selama ini agar aku menjadi juara, bukan bertanding dengan tanpa semangat seperti terjadi di final All England 1976. Pak Budi menganggap aku bisa bertarung habis-habisan melawan Rudy Hartono, tetapi aku tidak melakukan itu," urai Liem Swie King tentang memori final All England 1976.

Baca juga: Indonesia Dipaksa Mundur dari All England 2021, All England hingga BWF jadi Trending Topic

Penyesalan Liem Swie King

Liem Swie King mengakui ditanya banyak orang tentang final kontroversial itu.

Tak sedikit yang bertanya apakah King sengaja mengalah demi Rudy.

Banyak fansnya yang tak percaya dengan hasil di final All England, apalagi setelah turnamen prestisius tersebut Liem Swie King tampil gemilang membekuk para rival-rivalnya.

Namun, di buku tersebut King tak memberikan jawaban gamblang atas misteri final All England 1976.

Dia hanya mengaku menyesal gagal memenangi pertandingan puncak tersebut.

Tak ada pengakuan maupun bantahan bahwa dia sengaja diminta mengalah demi Rudy Hartono.

"Aku memang sangat menyesal aku tidak menjadi juara All England 1976. Padahal aku merasa di puncak prestasi dan kondisiku sangat fit. Aku menunjukkan bahwa aku mampu ketika uji coba menjelang Piala Thomas, aku mengalahkan semua pemain, baik Rudy Hartono, Iie Sumirat, maupun Tjun Tjun. Aku sungguh menyesal tidak bermain habis-habisan sampai 'berdarah-darah' dalam partai final All England itu," ujar Liem Swie King menutup ceritanya tentang rahasia final All England 1976.

Laga All England 1976

Baca juga: Aksi Tengil Praveen Jordan Dihadiahi Kartu Kuning oleh Wasit, Komentator Membela: Itu tak Pantas!

Kemenangan atas Liem Swie King mengukuhkan Rudy Hartono sebagai peraih gelar juara All England terbanyak di nomor tinggal dengan delapan kemenangan.

Yang istimewa, tujuh gelar di antaranya diraih Rudy Hartono secara beruntun pada pada periode 1968-1974.

Gelar juara sempat lepas dari tangan Rudy Hartono setelah kalah dari pemain Denmark, Svend Pri, pada 1975.

Gelar juara pada 1976 menjadi prestasi Rudy Hartono yang terakhir di ajang All England.

Prestasi Rudy Hartono di nomor tunggal putra All England belum berhasil disamai pemain manapun hingga kini.

Erland Korps dari Denmark pernah meraih tujuh gelar All England, tetapi prestasi itu diraih dalam kurun waktu 10 tahun.

Lalu, setelah sekian dekade berlalu, apakah misteri final All England 1976 berhasil dipecahkan?

Jawabannya tidak.

Hingga kini, Liem Swie King maupun Rudy Hartono tetap bungkam soal rahasia di balik partai final kontroversial tersebut.

Satu hal yang pasti, keduanya adalah pebulutangkis hebat yang menjadi legenda dan pernah dimiliki Indonesia.

Bisa jadi pertandingan bukan hanya soal menang atau kalah buat para legenda seperti mereka.

Mungkin faktor itu yang membuat Rudy Hartono dan Liem Swie King yang tetap menyimpan jawaban seputar pertanyaan di final All England 1976.

Entah sampai kapan.

(Tribunpalu.com/Isti Prasetya)

Editor: Isti Prasetya
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved