Terduga Teroris di Mabes Polri Ditembak Mati, Sutiyoso: Itu Sebuah Kerugian

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso berkomentar terkait insiden penyerangan di Mabes Polri beberapa waktu lalu.

Penulis: Miranti | Editor: Muh Ruliansyah
Via Kompas TV
Terduga teroris di Mabes Polri pada Rabu, 31 Maret 2021 (Sumber: istimewa) 

TRIBUNPALU.COM - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso berkomentar terkait insiden penyerangan di Mabes Polri beberapa waktu lalu.

Dalam video wawancara di kanal YouTube Refly Harun, Senin (5/4/2021), Sutiyoso mengatakan tewasnya terduga teroris yang ditembak mati di Mabes Polri merupakan suatu kerugian.

Sutiyoso menjelaskan jika terduga teroris tidak ditembak mati saat itu, maka aparat bisa mengembangkan dan memperoleh informasi lebih dalam terkait aksi terorisme.

"Sebenarnya itu sebuah kerugian, karena kalau orangnya mati kan nggak bisa dikembangkan," kata Sutiyoso.

Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG Selasa, 6 April 2021: Waspada Hujan Lebat di 14 Wilayah

Baca juga: Munarman Dituduh Mau Ledakan Bom, Pengamat: Perlawanannya adalah Perlawanan Konstitusional

Baca juga: Haaland Bikin Pelatih MU Gigit Jari, Neymar Makin Dekat Menuju Pintu Masuk Camp Nou

"Waktu itu mungkin udah panik atau bagaimana langsung ditembak aja. Jaraknya berapa juga menjadi persoalan dan pertanyaan. Kalau cukup jauh juga mungkin sulit, kecuali penembak mahir. Yang bagus harus dilumpuhkan. Tapi itulah sehingga tidak bisa dikembangkan," tambahnya.

Ketika ditanya apakah perlu dilakukan audit atas tindakan aparat menembak mati terduga teroris di Mabes Polri, Sutiyoso menegaskan perlu.

Menurutnya, diperlukan evaluasi atas kejadian tersebut karena terdapat keganjilan yang menyebabkan insiden di jantung Polri.

Salah satu yang dipertanyakan Sutiyoso adalah lolosnya terduga teroris dari penjagaan ketat aparat keamanan.

Baca juga: Puan Maharani: Tim SAR Harus Lakukan Pencarian Korban Banjir Bandang di NTT

Baca juga: Hari Pertama Beroperasi Kembali, Pasar Avo Silae Sepi Aktivitas

Baca juga: Pasar Avo Silae Dua Kali Tutup, Ini Penjelasan Disperindag

"Menurut saya perlu sekali, dalam konteks ini saya rasa Polri sudah melakukan evaluasi terhadap kejadian ini. Yang pertama dievaluasi bagaimana orang itu bisa masuk aja sudah aneh banget."

"Harus, ini fatal dan harus dievaluasi lah," katanya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga menjelaskan undang-undang terorisme di Indonesia merupakan salah satu yang terlemah di dunia.

Sutiyoso membandingkan dengan undang-undang anti terorisme di Malaysia yang tegas terhadap  warga negaranya yang bergabung dengan kelompok teroris di luar negeri.

Baca juga: Daftar Harga HP Xiaomi Terbaru Bulan April 2021: Redmi Note 10 Pro, Poco X3 NFC, hingga Mi 11

Baca juga: AHY Siap Hadapi Gugatan yang akan Diajukan Kubu KLB ke PTUN: Kami Tidak Takut dan Tidak Gentar

Sementara di Indonesia, warga negara yang bergabung dengan kelompok teroris di luar negeri tidak bisa diadili karena dilakukan di luar wilayah negara.

Sehingga pelakunya ketika kembali ke Indonesia bisa dengan bebas berbaur di tengah masyarakat.

"Undang-undang tentang anti terorisme kita tergolong terlemah," tuturnya.(*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved