Breaking News:

Sulteng Hari Ini

Dampak Perubahan Iklim, 15.000 Pulau Kecil di Sulteng Terancam Tenggelam

Selain itu, Asep juga mengungkapkan dampak lain akibat perubahan iklim, seperti rusaknya ekosistem laut khususnya terumbu karang. 

Penulis: fandy ahmat | Editor: mahyuddin
handover
Kepala SPAG Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Fandy Ahmat

TRIBUNPALU.COM, PALU - Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri memprediksi Perubahan Iklim dapat mengubah siklus air sehingga akan berdampak terhadap tenggelamnya pulau-pulau kecil di Sulawesi Tengah

SPAG Lore Lindu Bariri menyebut perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap panas bumi dan Sulawesi Tengah akan menderita dampak kenaikan muka air laut. 

"Kenaikan suhu bumi ini sudah tidak bisa dibendung. Kondisi ini bisa membuat es di kutub mencair sehingga menaikkan volume permukaan laut. Artinya, 15.000 pulau kecil di Sulawesi Tengah bakal tenggelam" ujar Kepala SPAG Lore Lindu Bariri Asep Firman Ilahi, Senin (19/4/2021). 

Selain itu, Asep juga mengungkapkan dampak lain akibat perubahan iklim, seperti rusaknya Ekosistem Laut, khususnya terumbu karang. 

"Banyak masyarakat tinggal di daerah pesisir dan berprofesi sebagai nelayan. Perubahan iklim ini akan menyebabkan rusaknya terumbu karang. Tentu ini akan mengurangi hasil tangkap ikan," ucapnya. 

Baca juga: Dogecoin Lawan Dominasi Bitcoin, Nilai Tukarnya Sangat Fantastis

Baca juga: Jasa Raharja Sulteng Serahkan Santunan Rp 5,9 Miliar: Mobilitas Warga Terbatas, Kecelakaan Menurun

Baca juga: SPAG Lore Lindu Bariri Perkirakan Perubahan Iklim: Kehidupan Nelayan di Sulteng Terancam

Asep menuturkan, pihaknya terus memantau kondisi cuaca di Sulawesi Tengah

Dari hasil pemantauan, diketahui kondisi cuaca saat ini kerap berubah dan sulit diprediksi. 

Terlebih kata dia, fenomena La Nina diperkirakan akan terus berlangsung hingga Mei 2021.

Artinya, anomali cuaca berupa peningkatan curah hujan masih terjadi di Indonesia, termasuk Sulawesi Tengah

Asep mengatakan, perubahan iklim juga diakibatkan dari penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang berlebihan. 

Kegiatan-kegiatan tersebut menghasilkan gas-gas rumah kaca kemudian menyelimuti bumi sehingga semakin panas.

"Selain pemanasan global, perubahan iklim juga beranjak dari konsumsi bahan bakar fosil secara berlebihan. Sejak revolusi industri, aktivitas manusia sudah tergantung pada mesin. Dan mesin-mesin ini tentu menggunakan BBM," kata Asep.(*) 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved