Dampak Psikologis Pertanyaan 'Kapan Nikah' Menurut Ustaz dan Psikolog
Pertanyaan 'kapan nikah' biasanya ditujukan kepada anak muda yang usianya sudah cukup matang untuk menikah, namun tak kunjung bertemu jodohnya.
Selain efek positif, pertanyaan 'kapan nikah' juga bisa menimbulkan efek negatif.
Menurut Laela, pertanyaan itu bisa menimbulkan stres, frustasi bahkan seseorang bisa menghindar dari kelompok sosial tertentu.
"Bisa stres, frustasi atau menghindar secara sosial," ujarnya.
Baca juga: Ini Sosok Perempuan yang Diduga Kirim Sate Beracun yang Tewaskan Anak Pengemudi Ojol di Yogyakarta
Efek positif dan negatif itu bisa muncul dikarenakan dua faktor.
Pertama, faktor internal yang berasal dari dalam diri sendiri.
Apakah terdapat sebuah trauma terkait hubungan percintaan, kepercayaan diri dan cara memandang sesuatu.
"Pertama karena ada trauma percintaan di masa lalu," beber Laela.
Jika seseorang merasa tertekan atas pertanyaan 'kapan nikah', maka hal tersebut akan menimbulkan efek negatif.
Dalam kasus ini, kepercayaan diri merupakan suatu hal yang sangat inti.
"Jika seseorang percaya diri, pertanyaan tersebut tidak akan ngaruh sebenarnya," lanjut Laela.
Kedua, faktor eksternal yang berasal dari kontrol diri sendiri.
Baca juga: Akademisi Untad: Perempuan Masih Tertinggal dalam Pendidikan
Baca juga: Fashion Designer Palu: Perempuan Masa Kini Harus Bisa Segala Hal
Laela menyebut faktor eksternal bisa berasal dari lingkungan sosial atau tekanan pihak keluarga.
Menurutnya, besaran efek dari pertanyaan tersebut tergantung dengan besarnya harapan dan kenyataan yang akan didapat.
"Misal, kalau anak kuliah ditanya soal beginian akan merasa biasa saja," ujar Laela.
Tidak ada harapan besar jika pertanyaan 'kapan nikah' dilontarkan pada mahasiswa.
Akan berbeda jika hal itu diberikan kepada mereka yang sudah memiliki harapan besar segera menikah.
"Maka akan menjadi pertanyaan sensitif bagi mereka," pungkasnya.
(TribunPalu.com/Hakim)
