Apa Itu Quarter Life Crisis? Ketahui Penyebab dan Cara Menghadapinya
Seseorang akan berusaha mencari jati dirinya dengan berbagai cara di usia sekitar 25 tahun. Fase ini disebut dengan quarter life crisis.
Apa Itu Quarter Life Crisis? Ketahui Penyebab dan Cara Menghadapinya
TRIBUNPALU.COM - Usia 20 tahunan ke atas merupakan fase dimana seseorang akan berubah menjadi dewasa.
Seseorang akan berusaha mencari jati dirinya dengan berbagai cara.
Fase ini disebut dengan quarter life crisis.
Sebuah tahapan perubahan sikap dan pola pikir seseorang di usia sekitar seperempat abad.
Fase ini wajar dialami oleh semua orang, sehingga Anda tak perlu mengkhawatirkannya.
Apabila Anda hanya membiarkan diri Anda berjalan tanpa arah, maka fase quarter life crisis Anda terasa berat.
Seharusnya Anda bisa menggunakan waktu ini untuk membangun diri menuju masa depan dengan baik.
Baca juga: Apa Itu Depresi dan Bagaimana Cara Mengatasinya? Berikut Penjelasan Psikolog Analis Widyaningrum
Untuk mengetahui lebih jelas terkait quarter life crisis, berikut ini TribunPalu informasikan pengertian, penyebab dan cara mengatasi quarter life crisis.
Apa Itu Quarter Life Crisis?
Dilansir dari digital platform yang membahas tentang kesehatan mental yakni laman satupersen.net, quarter life crisis adalah proses pencarian jati diri bagi seseorang yang mulai memasuki tahap awal usia dewasa.
Berdasarkan Teori Erikson, usia dewasa awal berkisar antara 20-an hingga 40-an tahun.
Di usia-usia itulah, seseorang akan dihadapkan dengan sebuah kebingungan untuk menjawab pertanyaan tentang dirinya sendiri, termasuk apa yang harusnya dilakukan.
Dalam periode ini, sangat wajar jika kita merasa tidak percaya diri dalam mencapai kesuksesan.
Pada fase ini, seseorang juga merasa ragu-ragu akan masa depannya dan rasa kecewa pada diri sendiri.
Khususnya menyangkut pekerjaan, keuangan, dan hubungan dengan orang lain.
Lebih lanjut, riset membuktikan bahwa generasi milenial saat ini memiliki fase 'quarter-life crisis' yang lebih parah daripada generasi sebelumnya.
Baca juga: Dampak Psikologis Pertanyaan Kapan Nikah Menurut Ustaz dan Psikolog
Penyebab Quarter Life Crisis
1. Munculnya banyak pilihan dalam hidup
Dikutip dari kanal YouTube Satu Persen Official, biasanya selepas kuliah, Anda akan menemukan berbagai pilihan dalam hidupnya.
Ada yang ingin melanjutkan studi pasca sarjana, bekerja atau menikah saja.
Sehingga Anda akan dihantui dengan perasaan anxious, insecure, sampai over thinking.
Pilihan-pilihan tersebut akan menghiasi kehidupan Anda setelah lulus dari kuliah.
2. Menentukan Makna Hidup
Ketika masih berada di bangku sekolah, mungkin kebanyakan orang akan berpikir tentang kehidupan masa depan yang jauh lebih baik.
Misalnya, ketika Anda bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi kemanusiaan, sampai relawan bencana.
Mungkin Anda akan berpikir jika uang bukanlah segalanya.
Namun sejatinya setelah dewasa, yang Anda butuhkan ialah uang yang realistis.
Tuntutan finansial dalam hidup akan muncul pada fase ini.
Sehingga tak heran jika ditemui orang yang bingung antara tujuan hidup dan realitas kehidupan.
Baca juga: Kondisi Psikologis Seseorang saat Ditanya Kapan Nikah? Psikolog: Bisa Menimbulkan Stress
3. Lingkaran Pertemanan Semakin Kecil
Saat berada di bangku sekolah, jumlah teman tergolong lebih banyak dan kompak.
Mulai dari teman kelas, teman bimbingan belajar, teman komunitas dan sebagainya.
Namun seiring berjalannya waktu, Anda akan merasa jika teman-teman Anda seperti menghilang satu per satu.
Entah itu dikarenakan kesibukan masing-masing, ataupun sudah memiliki tujuan hidup yang berbeda.
Misalnya, Anda pada masa kuliah atau sekolah dekat dengan teman Anda yang sebut saja Mawar.
Kemudian setelah lulus dari bangku kuliah, Mawar lebih memilih membangun kariernya di Jakarta, sementara Anda memilih menetap di daerah.
4. Ekspektasi Orang Lain
Manusia sebagai makhluk sosial, sehingga tidak bisa hidup jika tidak mmebutuhkan bantuan dari orang lain.
Tak jarang orang-orang yang berada di sekitar Anda menciptakan ekspektasi tersendiri untuk diri Anda.
Entah itu juga sesuai dengan ekspektasi Anda pribadi, ataupun sampai yang tidak.
Hal itu terkadang mungkin menjadi dilema Anda dalam mengambil keputusan dalam hidup.
Sebagai contohnya, Anda memiliki kekasih yang sudah menjalin hubungan selama lima tahun.
Sudah tiba waktunya bagi Anda untuk menjalin hubungan lebih serius dengan teman Anda.
Namun pada kesempatan tersebut, justru keluarga Anda meminta agar Anda memilih pasangan hidup yang memiliki finansial baik ataupun persyaratan yang lain.
Baca juga: Melawan Stigma Kesehatan Mental, Psikolog: Stop Judging, Start Supporting
Cara Menghadapi Fase Quarter Life Crisis dengan Baik
1. Kapan saat yang tepat untuk memulai semua rencana?
Jawabannya ialah sekarang.
Kebiasaan menunda-nunda hanya akan membuat Anda kehilangan waktu dengan sia-sia.
2. Tak perlu membanding-bandingkan hidupmu dengan orang lain.
Kualitas hidup Anda tergantung pada upaya dan kerja keras Anda untuk mewujudkan semua yang diinginkan.
Ingat, bahwa setiap orang berada pada tahap yang berbeda dalam perjalanan mereka, jadi jangan membandingkan diri Anda dengan orang lain.
Setiap orang punya definisi bahagianya masing-masing.
3. Singkirkan mereka yang tidak menambah nilai baik dalam hidup Anda.
Kelilingi diri Anda dengan orang-orang berpikiran terbuka, termasuk teman-teman dan pacar.
Baca juga: Cara Cek Kesehatan Mental: Kapan Seseorang Harus Konsultasi ke Psikolog? Ini 7 Tanda Deteksi Dini
4. Banyaklah membaca.
Ini cara yang sangat efektif untuk membuka wawasan, menemukan ide, dan menambah pengetahuan baru.
Terlalu banyak membaca tidak akan memberikan kerugian untuk diri Anda.
5. Lakukan yang terbaik dalam semua hal.
Kerahkan seluruh kemampuan saat ini juga.
Apa yang kamu lakukan sekarang akan berpengaruh pada masa depan.
6. Terkadang diri sendirilah sumber semua drama hidup, konflik, dan masalah.
Jangan terlalu keras kepala untuk tidak mengakuinya.
Mengakui kesalahan bukan berarti kalah.
Berubahlah demi dirimu yang lebih baik.
Baca juga: Rafathar Ungkap Keengganannya untuk Shooting, Psikolog Anak: Biarkan Anak Senang Tanpa Ada Paksaan
7. Periode usia 20-an ini hanya akan berlangsung selama sepuluh tahun.
Nikmatilah setiap waktu, manis dan pahitnya, karena masa itu tidak akan kembali lagi.
8. Banyak-banyak bersyukur atas apa yang telah kamu dapatkan.
Terkadang, Anda terlalu sibuk mencari-cari hal yang belum didapat.
Padahal, telah begitu banyak nikmat yang ada di depan mata.
(TribunPalu.com/Hakim)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/ilustrasi-mendengarkan-musik-atau-lagu-galau-saat-merasa-sedih.jpg)