Breaking News:

OPINI

Bagai Mata Lalat

Cerita ini menjadi kisa antargenerasi yang turun temurun tentang seorang ayah yang ingin mendidik anaknya. Ayah yang menjadi teladan bagi anaknya.

Editor: mahyuddin
Handover
Dewan Pakar Himpunan Dai Muda Sulawesi Tengah Muhammad Khairil 

Akhirnya mereka masuk dalam kelompok “NATO”, no action talk only. Ibarat tong kosong yang selalu berbunyi nyaring.

Orang yang berbicara banyak tidak selalu berarti seorang yang pandai bicara seperti halnya orang yang menebak banyak belum tentu penebak yang baik dan benar. (Baca Artikel “Menjaga Tradisi Diam”)

Imam Ali yang dikenal dari bahasa tutur yang selalu sejuk penuh hikmah mengingatkan kita semua bahwa “Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu."

Sebaik apa pun kita, di mata para pembenci, kita tak ubah bagai “sampah” di mata seekor lalat.

Sebaliknya, apalah arti “setitik” noda bagi mereka yang selalu menebar cinta dan kasih sayang.

Kita, tidaklah “putih” dengan menghitamkan orang lain. Kita, tidaklah suci dengan membenci para pendosa.

Namun, sungguh menjadi nilai kebaikan, andai niat kita baik, hati kita baik dan selalu terjaga dengan tutur santun, sejuk penuh manfaat.

Mengutip kembali nasehat bijak Luqmanul Hakim sebagai rangkain penutup tulisan ini, bahwa “Wahai tuanku, tidak ada daging yang terbaik dari makhluk, kecuali lidah dan hatinya. Apabila digunakan untuk kebaikan, maka mulialah ia dan sebaliknya, tidak ada daging terburuk kecuali lidah dan hati kalau dibuat untuk keburukan." (*)

   

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved