OPINI
Selamat Jalan Sang Mentor
Sebagai jurnalis radio yang sudah punya nama di Ibukota, Bung Ichan tidak membuat jarak dekat dengan kalangan aktivis jurnalis dari Sulteng.
Penulis: Citizen Reporter | Editor: mahyuddin
Pikiran-pikiran kebangsaaan dari Jalan Sa aba, Cipete Jakarta Selatan ini, Bung Ichan menjadi lead creator kegiatan IHN.
Sejumlah tokoh bergabung di sini yang melahirkan pemikiran-pikiran politik kebangsaan untuk kepemimpinan masa depan Indonesia.
Menteri Bahlil Lahadalia mengenang Bung Ichan sebagai mentor dan senior yang baik.
Dalam diskusi panas, Bahlil menggambarkan sosok Bung Ichsan seperti air.
Jika terjadi perbedaan pendapat antara senior dan junior di lingkungan KAHMI, Bung Ichan menjadi jembatan penghubung.
Ia adalah kawan, sahabat, dan senior yang mengayomi.
Bung Ichan tidak pernah lepas dengan dunia Broadcasting.
Bersama kawan-kawan mantan pengelola Tri Jaya FM, saat ini mengasuh Good Radio FM Jakarta.
Sebuah radio yang menyajikan informasi dan diskusi yang telah memiliki pendengar luas di Jakarta.
Cita-citanya menghidupkan kembali dunia Broadcasting adalah passion yang idealismenya tak pernah hilang sejak ia menjadi jurnalis.
”Broadcasting itu dunia saya untuk membangun peradaban berpikir. Dulu kita orasi di jalanan, sekarang banyak platform media yang bisa digunakan, salah satunya radio. Karena itu saya masih antusias untuk mengelola Good Radio FM sebagai referensi informasi," ucap Bung Ichsan kala kepada kami kala itu.
"Bantu-bantulah berpikir bisnisnya, karena passionmu sebagai seorang jurnalis dan pernah mengelola media jangan sampai redup setelah berubah profesi menjadi pegiat usaha."
Baca juga: Wajah Baru UU Kesehatan, Layak atau Cacat?
Kepergian Bung Ichan Laulembah, Minggu 30 Juli 2023, secara mendadak, membuat kami kehilangan.
Beberapa kesempatan untuk mengatur janji bertemu didua minggu belakangan ini, tidak kesampaian karena masing-masing sibuk, menjadi penyesalan mendalam yang masih membekas.
Percakapan lewat WA, yang masih tertulis belum terhapus.
Seperti biasa, almarhum selalu mengajak bertemu saat jam malam setelah selesai kerja.
Dengan lembut biasanya ia menelepon kalau ada waktu luang ‘bakudapa’, selesaikan dulu kerjaanmu.
Itulah kalimat yang sangat mendidik yang kami rasakan hingga saat ini.
Di hadapan jenazah Bung Ichan, kami harus bersujud minta maaf karena tidak sempat berbagi waktu bertemu.
Mungkin ajakan itu adalah percakapan saya dan almarhum yang terakhir atau ajakan untuk perpisahan seorang kakak kepada adiknya.
Banyak sekali kenangan yang tidak bisa kami tulis dalam ruang yang terbatas ini.
Tetapi, Tuaka Ichan, pikiranmu selalu mencerahkan kami dan nasihatmu selalu kami ingat menjadi bekal hidup dalam ruang pergaulan yang lebih nyata.
Terima kasih Tuaka M Ichsan Loulembah atas bimbingan dan perhatiannya selama ini.
Kami kehilangan, kami sedih, tapi kami harus ihklas. Semua orang mengingatmu Tuaka. Kamu orang baik. Selamat jalan Sang Mentor sejati..Noor Korompot/sahabatmu dan juga juniormu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Almarhum-M-Ichsan-Loulembah.jpg)