Poso Hari Ini

'Gula Gasing' Desa Malitu Poso, Produk UMKM Unggulan dari Tanah Nira

Desa Malitu, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso Sulawesi Tengah menjadi surganya pohon nira.

Editor: Haqir Muhakir
TribunPalu.com/Syahril
Sefrida Tuwuncaki (kiri) dan Dithya Galuh Prawesty (kanan). 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Syahril

TRIBUNPALU.COM, POSO - Desa Malitu, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso Sulawesi Tengah menjadi surganya pohon nira.

Sebab, di desa berpenduduk 726 jiwa ini pohon nira dapat dengan mudah ditemukan. Tidak ditanam, pohon itu tumbuh sendiri.

Air dari pohon nira ini menjadi bahan baku pembuatan gula aren atau warga setempat akrab menyebutnya gula merah.

Dari tangan Sefrida Tuwuncaki dan ibu-ibu Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Lestari Desa Malitu, air nira disulap menjadi bongkahan-bongkahan gula aren, sepintas bentuknya mirip gasing.

Baca juga: Partai Nasdem Resmi Buka Pendaftaran Bakal Calon Bupati dan Wakilnya pada Pilkada Poso 2024

Tak heran KUPS Lestari Desa Malitu menamai gula aren ini dengan Gula Gasing.

Proses pembuatannya masih tradisional dan mengedepankan kebersihan sehingga cukup memakan waktu.

Menampung air nira juga cukup sulit, proses penyadapan untuk mengumpulkan tetesan-tetesan air nira dilakukan 2 kali sehari, pagi dan sore.

Air nira yang sudah didapatkan terlebih dahulu disaring untuk memisahkan kotoran.

Lalu dilakukan pengendapan selama 12 jam, kemudian dipanaskan selama 5-6 jam hingga mencapai kekentalan yang pas.

Lalu kemudian dicetak sesuai bentuk yang diinginkan.

Baca juga: Seorang Wanita di Poso Jadi Korban Asusila, Direkam Saat Tanpa Busana di Kamar Pribadi

Sehari mereka mampu menghasilkan sekitar 30-50 bongkahan gula aren mirip gasing. "Tergantung jumlah dan kualitas gula dalam air niranya," sebut Sefrida saat ditemui TribunPalu.com di Desa Malitu, Rabu (1/5/2024).

Semakin asam air nira maka jumlah gula merah yang dihasilkan akan semakin sedikit. Air nira sejatinya memang mudah masam, sebab zat gula di dalamnya mudah terfermentasi bakteri.

Bongkahan gula aren siap kemas lantas dimasukan ke dalam wadah pembungkus, setiap bungkusnya diisi dua buah dan dijual dengan harga Rp 13 ribu per bungkus.

Produk buatan tangan terampil Sefrida dan kawan-kawan ini sudah memiliki sertifikasi halal.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved