Rabu, 15 April 2026

Parimo Hari Ini

Emak-emak di Parigi Barat Sulteng Berbondong-bondong Jadi Pendulang Emas

Ia mengaku pendapatan dari mendulang tidak menentu, tergantung keberuntungan dan kondisi material tambang.

Penulis: Abdul Humul Faaiz | Editor: Fadhila Amalia
Faaiz/TribunPalu
Puluhan emak-emak dari Kecamatan Parigi Barat, Parigi Moutong, Sulawesi Tngah, kini ikut mendulang emas di kawasan tambang Desa Kayuboko. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Abdul Humul Faaiz

TRIBUNPALU.COM, PARIMO - Puluhan emak-emak dari Kecamatan Parigi Barat, Parigi Moutong, Sulawesi Tngah, kini ikut mendulang emas di kawasan tambang Desa Kayuboko.

Aktivitas itu dilakukan secara mandiri sejak tambang emas mulai ramai beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Bus Shalawat Hari Jumat Diberhentikan Sementara, Jemaah Diimbau Salat di Hotel

Salah satu pendulang, Marlina (43), mengaku ikut menambang karena kebutuhan ekonomi keluarga.

Ia sebelumnya hanya ibu rumah tangga tanpa pekerjaan tetap, selain sesekali membantu di kebun.

“Daripada cuma di rumah, lebih baik cari uang sedikit-sedikit untuk anak-anak,” ujar Marlina kepada TribunPalu.com, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Ramalan Zodiak Sabtu 31 Mei 2025: Taurus Dapat Untung di Akhir Pekan, Virgo dapat Peluang Bagus

Menurut Marlina, tidak sulit bagi perempuan belajar teknik mendulang emas dari masyarakat sekitar.

“Awalnya tidak tahu, tapi karena sering lihat, lama-lama bisa juga. Namanya juga nekat,” katanya.

Ia mengatakan, perempuan yang datang ke tambang berasal dari beberapa desa di sekitar Kayuboko.

“Banyak yang dari Lobu, Parigimpuu, Petapa, semua saling kenal, biasa baku ajak,” ucap Marlina.

Baca juga: BSU untuk Pegawai Gaji di Bawah Rp3,5 Juta Cair Juni 2025, Cek Syarat dan Besarannya

Aktivitas mendulang dilakukan di area sungai, mengambil sisa material dari baket milik penambang pria.

Mereka tidak masuk ke lubang tambang, melainkan menyaring butiran emas dari aliran sungai.

Setiap hari, Marlina bekerja siang setelah menyelesaikan urusan rumah tangga di pagi hari.

“Masak dulu di rumah, beres-beres, baru ke lokasi. Suami saya yang biasanya jaga anak,” tuturnya.

Ia mengaku pendapatan dari mendulang tidak menentu, tergantung keberuntungan dan kondisi material tambang.

Baca juga: Hari Kenaikan Yesus Kristus, Menag Nasaruddin Umar Ajak Umat Kristiani Bangun Bangsa

“Kadang cuma dapat satu kaca, kadang tidak ada sama sekali. Tapi tetap disyukuri,” katanya tersenyum.

Marlina menegaskan, selama ini tidak ada tekanan atau larangan dari keluarga untuk ikut mendulang.

"Saya juga biasanya datang dengan suami saya ke sini, tidak masalah," pungkasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved