Konflik Israel-Iran Bisa Melebar ke Lebanon dan Suriah
Pernyataan tegas ini datang hanya beberapa hari setelah tercapainya gencatan senjata yang dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
TRIBUNPALU.COM - Ketegangan antara Israel dan Iran kembali memuncak.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengeluarkan peringatan keras bahwa negaranya siap melancarkan serangan balasan yang jauh lebih besar jika merasa terancam oleh Iran atau kelompok sekutunya.
"Jika Iran mencoba menyerang atau mengancam keamanan Israel, maka kami tidak akan ragu untuk merespons dengan kekuatan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya," ujar Katz dalam pernyataan yang dikutip dari Reuters.
Walaupun belum ada perincian resmi dari Tel Aviv mengenai bentuk atau skala serangan yang direncanakan, pernyataan Katz menegaskan bahwa Israel siap melakukan aksi militer dengan intensitas yang jauh melebihi konflik sebelumnya jika ada eskalasi lanjutan dari pihak Iran.
Pernyataan tegas ini datang hanya beberapa hari setelah tercapainya gencatan senjata yang dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 23 Juni 2025.
Gencatan tersebut menandai akhir dari perang udara selama 12 hari antara Israel dan Iran konflik yang sempat memicu kekhawatiran akan meluasnya peperangan di kawasan Timur Tengah.
Selama eskalasi tersebut, Israel menargetkan sejumlah fasilitas nuklir di Iran, dengan tuduhan bahwa instalasi tersebut digunakan untuk pengembangan senjata nuklir.
Klaim itu langsung dibantah oleh Teheran, yang menyatakan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai dan sipil.
Tak hanya Israel, Amerika Serikat juga turut ambil bagian dalam serangan militer, dengan menghantam beberapa target strategis Iran sebagai bentuk dukungan terhadap sekutunya di kawasan.
Iran Tak Tinggal Diam: “Kami Siap Melumpuhkan Israel”
Menanggapi ancaman dari Tel Aviv, Panglima Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, mengeluarkan pernyataan balasan yang tak kalah keras.
Dalam sebuah upacara penghormatan untuk salah satu komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang gugur dalam serangan Israel, Mousavi menyatakan bahwa Iran siap melakukan pembalasan besar-besaran jika konflik kembali pecah.
“Mereka kira bisa meruntuhkan sistem pertahanan kami dalam 48 jam dan mencabik-cabik kedaulatan Iran. Mereka keliru besar,” ujar Mousavi di hadapan ribuan pendukungnya.
Ia juga menuding bahwa serangan 12 hari lalu hanyalah kelanjutan dari kampanye panjang selama 15 tahun oleh Israel dan Amerika Serikat untuk menggoyang kestabilan politik dan militer Iran.
Mousavi mengklaim bahwa Iran sudah memiliki rencana serangan balasan yang mematikan, namun ditangguhkan sebagai bentuk komitmen terhadap gencatan senjata yang diumumkan Presiden Trump.
| Proses Hukum Benjamin Netanyahu Berlanjut, Terancam Hukuman Berat |
|
|---|
| Eks Menlu Iran Kamal Kharazi Tewas Bersama Istri dalam Serangan AS-Israel, Ini Rekam Jejaknya |
|
|---|
| Sibuk Serang Negara Lain, Donald Trump dan Netanyahu Terancam Dimakzulkan di Negeri Sendiri |
|
|---|
| Gencatan Senjata AS-Iran Rapuh:Serangan ke Lebanon jadi Sebab, Iran Disebut Sudah Siapkan Balasan |
|
|---|
| AS Dinilai Tak Serius Soal Gencatan Senjata, Soroti Serangan Udara Israel di Lebanon |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/ISRAEL.jpg)