OPINI
OPINI: SDM dan Akuntabilitas adalah KOENTJI Kelestarian Koperasi Merah Putih
Nama Bank Pertolongan memang diadaptasi dari bahasa Belanda, Hulp en Spaarbank.
Pengelolanrisiko tersebut antara lain diimplementasikan melaluiidentifikasi risiko, analisis keterjadian dan dampak risiko, merancang pengendalian yang tepat, serta monitoring dan evaluasi atas efektivitas pengendalian yang telah dibangun.
Terkait identifikasi risiko strategis program koperasi merahputih, Kementerian Koperasi sendiri mengakui adanya sejumlah tantangan utama, termasuk rendahnya literasi keuangan, minimnya adaptasi teknologi, dan potensi elite capture.
Lebih lanjut, Asosiasi Pengusaha Indonesia menyebut sebagian besarkoperasi Desa belum memenuhi standar kredit perbankan yang meliputi 5C (character, capacity, capital, collateral, condition).
Risiko Finansial: Kredit Macet
Menurut Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan, bank BUMN akan dilibatkan untuk memberikan pembiayaansebagai modal awal program tersebut.
Dengan target sebesar 80 ribu unit koperasi, maka diperkirakan butuh pembiayaan sekitar Rp 240 Triliun.
Namun demikian, pembiayaan koperasi tidak terlepas oleh tingginya risiko kredit bermasalah (NPL atau nonperforming loan).
Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, rasio Non-Performing Loan (NPL) koperasi mencapai 8,5 persen, jauh di atasrata-rata sektor perbankan yang hanya di kisaran 2 persen.
Belum optimalnya kinerja koperasi tersebut antara lain disebabkan sebagian besar koperasi Desa belum memiliki berpengalaman mengelola pembiayaan sebesar itu.
Tanpa assesment kelayakan usaha dan sistem pengawasan internal yang kuat, risiko kredit macet akan menjadi sangat tinggi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan Dana Desa akan digunakan sebagai jaminan kredit koperasi.
Dalam skenario terburuk, skema ini dapat berubah sebagai “bom waktu fiskal” yang bisa mengorbankan hak pembangunan Desa.
Karena bila koperasi mengalami gagal bayar, lalu dana Desa dipakaimenutup utang maka dapat menjadi itu jebakan fiskal bagi Desa.
SDM dan Kapasitas Desa: Siapkah Pengelola Koperasi?
Salah satu hal yang kerap diabaikan adalah kondisi sumberdaya manusia di Desa.
Koperasi yang sukses membutuhkan pengurus dengan literasi finansial, manajemen usaha, dan keterampilan komunikasi.
Banyak pengurus belum memahamikonsep dasar seperti neraca, arus kas, dan pembukuan yang akuntabel sehingga terdapat risiko Kesalahan mencatat transaksi keuangan menyebabkan laporan yang tidak bisadiaudit atau dipercaya.
Selain itu koperasi, khususnya simpanpinjam di Desa seringkali memiliki masalah kurangnya analisis risiko.
Sayangnya, banyak koperasi terbentuk melalui pendekatan top-down, dimana pembentukan koperasi seringkali datang dari inisiatif pemerintah, institusi eksternal, atau elit lokal, bukan dari kebutuhan atau dorongan masyarakat Desa.
Dikhawatirkan, Koperasi Merah Putih bisa menjadi bancakan baru jika tidak diawasi ketat.
Survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan bahwa 65 % perangkat Desa menilai program Kopdes Merah Putih berpotensi dikorupsi dalam pelaksanaannya.
Selain itu, digitalisasi koperasi juga menjadi tantangan baru.
Sebagian besar Desa masih terbatas dalam akses internet dan perangkat kerja.
Setiap rencana usaha koperasi harus melalui asesmen kelayakan dari lembaga independen, dan laporan keuangannya diaudit secara berkala. Transparansi anggaran dan pelaporan publik menjadi elemen penting untuk menjaga akuntabilitas dan mendorong partisipasi warga.
Keseluruhan rekomendasi ini menegaskan; keberhasilan Program Koperasi Merah Putih tidak hanya ditentukan besarnya anggaran atau skema pembiayaan.
Kualitas tata kelola, partisipasi masyarakat, dan kekuatan kelembagaan lokal menjadi KOENTJI mewujudkan ekonomi Desa mandiri dan berkeadilan. (*)
| Konflik Kepentingan di Balik Rangkap Jabatan |
|
|---|
| Opini: HATAM 2026 Momentum Penyelamatan Ruang Hidup Dari Konsesi Tambang di Sulawesi Tengah |
|
|---|
| Menakar Keabsahan Kebijakan Rektor dalam Bingkai Checks and Balances |
|
|---|
| Dialektika Kekisruhan Rapat Senat Untad Jelang Pilrek: Benarkah Peraturan Senat Bertentangan |
|
|---|
| Satgas Ketenagakerjaan Sulteng: Hasil Perjuangan Massa, Bukan Hadiah Penguasa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/WhatsApp_Image_2025-07-29_at_11_43_00jpeg.jpg)