Senin, 4 Mei 2026

Sulteng Hari Ini

Kepala BKKBN: Anak Stunting Sulit Bersaing, Bisa Jadi Penonton di Daerah Sendiri

Sehingga anak dengan Stunting tersebut dapat tidak produktivitas dalam bekerja.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Regina Goldie
Faaiz/TribunPalu
STUNTING SULTENG - Kepala Kemendukbangda/BKKBN Sulawesi Tengah, Tenny C Sariton mengungkapkan bahwa anak terkena Stunting tidak tahan dengan lingkungan kerja saat ia dewasa. 

“Prevalensi Stunting Sulawesi Tengah masih tinggi, yakni 26,1 persen. Di Parigi Moutong sendiri 22,3 persen. Artinya, dari setiap 100 anak yang lahir, 22 di antaranya mengalami Stunting,” ujar Tenny dalam kegiatan penanganan Stunting di Parigi, Selasa (5/8/2025).

Ia menekankan, angka tersebut berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.

Tingginya angka ini, menurutnya, menunjukkan bahwa perhatian dan penanganan Stunting masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Tenny menjelaskan bahwa Stunting berawal dari kurangnya asupan gizi dan infeksi berulang, terutama pada masa 1000 hari pertama kehidupan anak, yaitu sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun.

“Kalau gizi tidak terpenuhi sejak awal, maka perkembangan otak anak terganggu. Itu yang menyebabkan sulit belajar saat sekolah,” katanya.

Baca juga: Tenny C Sariton: Stunting di Sulteng Jadi PR Bersama yang Mendesak

Ia menambahkan, anak yang mengalami Stunting saat kecil, saat dewasa berisiko tinggi terkena penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, obesitas, hingga jantung koroner.

“Imunitas mereka juga rendah, sehingga tidak tahan menghadapi tekanan lingkungan kerja saat dewasa,” ucapnya.

“Padahal saya sangat ingin anak daerah yang lolos, karena mereka biasanya lebih bertahan. Kalau dari luar, baru satu tahun sudah minta pindah,” kata Tenny.

Ia menilai persoalan ini harus dilihat sejak hulu, dengan memperkuat ketahanan keluarga dan memastikan gizi anak terpenuhi sejak masa kehamilan.

“1000 hari pertama kehidupan adalah masa emas. Ini saatnya membentuk pondasi kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak,” tegasnya.

Dalam satu bulan terakhir, ia sudah empat kali hadir dalam kegiatan Stunting di kabupaten tersebut.

BKKBN, lanjutnya, telah menyalurkan berbagai bentuk dukungan, mulai dari Dana Alokasi Non-fisik (DANFIS), Dana DAK BOKB, hingga program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT).

“Kami fasilitasi pemantauan gizi keluarga, edukasi gizi, pendampingan, sampai pembiasaan konsumsi makanan lokal bergizi,” jelasnya. (*)

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved