OPINI
Fungsi Pelabuhan Pantoloan dan Arah Pembangunan Daerah
Pemindahan fungsi pelabuhan penumpang dari Pantoloan ke Banawa menjadi musibah besar bagi warga desa.
Mutiara
Mahasiswi Asal Desa Wombo Donggala
TRIBUNPALU.COM - Kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga sejauh mana masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung.
Jika melihat kondisi beberapa wilayah di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, khususnya di bagian pesisir barat, masih terdapat keterbatasan infrastruktur.
Desa Wombo, Kecamatan Tanantovea, misalnya.
Warga desa yang berjarak 6,2 Km dari Pelabuhan Pantoloan Kota Palu menjadikan pelabuhan sebagai jantung ekonomi dan jalur transportasi laut.
Pelabuhan Pantoloan paling mudah diakses banyak warga di Tanantovea.
Baca juga: Warga Pantoloan Minta Pemindahan Pelabuhan Penumpang ke Donggala Dikaji Ulang
Banyak keluarga di Desa Wombo mengais rezeki dari aktivitas sekitar pelabuhan, terutama saat kapal PELNI beroperasi.
Hal ini telah berlangsung cukup lama dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Pemindahan fungsi pelabuhan penumpang dari Pantoloan ke Banawa menjadi musibah besar bagi warga desa.
Apalagi belum ada kajian terbuka dan komprehensif urgensi pemindahan fungsi dari pelabuhan tersebut kepada masyarakat.
Bisa jadi, pemindahan fungsi pelabuhan tidak lagi relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Saya menilai sikap Gubernur Sulawesi Tengah yang mempertimbangkan aspirasi masyarakat terkait pemindahan pantoloan adalah sikap yang patut dihargai.
Hal tersebut menunjukkan upaya untuk menempatkan kepentingan masyarakat sebagai pertimbangan utama dalam pengambilan kebijakan.
Persoalan pemindahan fungsi Pelabuhan Pantoloan membutuhkan pemikiran semua elemen, bukan hanya pemerintah.
Karena dampak kebijakan itu tak hanya dirasakan warga Pantoloan tapi hingga Donggala.
Baca juga: Rencana Pemindahan Kapal Pelni Tuai Penolakan, Warga Pantoloan Datangi Gubernur Sulteng
Seperti yang disampaikan Ekonom dan Filsuf India Amartya Kumar Sen, pembangunan sejati adalah pembangunan yang memperluas akses dan kesempatan masyarakat.
Dengan demikian, kebijakan transportasi dan pembangunan daerah seharusnya mampu memudahkan kehidupan masyarakat sehari-hari, terutama bagi mereka yang berada di wilayah yang aksesnya masih terbatas.
Sebagai mahasiswi asal Wombo, saya berharap kebijakan pembangunan di Sulawesi Tengah ke depan semakin mempertimbangkan kebutuhan masyarakat secara luas dan merata.
Saya percaya bahwa kemajuan daerah akan tercapai apabila kebijakan diambil dengan penuh kehati-hatian, keterbukaan, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Mutiara-Mahasiswi-Wombo.jpg)