Rabu, 22 April 2026

Parigi Moutong Hari Ini

Di Balik Papan Rapuh dan Tikar Lusuh, Warga Sienjo Parigi Moutong Menanti Uluran Tangan

Tikar lusuh menjadi alas tidur, dan dapur seadanya menjadi saksi perjuangan mereka bertahan hidup di tengah segala kekurangan.

|
Editor: Fadhila Amalia
Handover
KISAH AEMAN - Di sebuah sudut sunyi Desa Sienjo, Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong, berdiri sebuah gubuk kecil yang tampak tak layak dihuni. Dindingnya dari papan-papan rapuh yang mulai miring, lantainya tanah, dan atap rumbianya berlubang di sana-sini. 

TRIBUNPALU.COM, PARIMO – Di sebuah sudut sunyi Desa Sienjo, Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong, berdiri sebuah gubuk kecil yang tampak tak layak dihuni.

Dindingnya dari papan-papan rapuh yang mulai miring, lantainya tanah, dan atap rumbianya berlubang di sana-sini.

Di situlah Aeman (60), seorang lansia, menjalani hari-harinya bersama putri semata wayangnya.

Baca juga: Puluhan Kali Didatangi, Tapi Tak Pernah Dibantu: Warga Desa Sienjo Aeman Tetap Menunggu

Tikar lusuh menjadi alas tidur, dan dapur seadanya menjadi saksi perjuangan mereka bertahan hidup di tengah segala kekurangan.

"Kalau hujan turun, air masuk semua. Lantainya becek. Kami hanya bisa diam menunggu reda," ucap Aeman pelan, sembari menatap dinding rumahnya yang mulai lapuk dimakan usia.

Aeman sudah tak kuat lagi bekerja.

Usianya dan kondisi tubuh yang sering sakit membuatnya hanya bisa beristirahat. 

Baca juga: Potret Kemiskinan di Parigi Moutong: Aeman dan Anaknya Bertahan di Gubuk Reyot

Semua keperluan rumah kini ditangani sang putri, yang hanya sesekali mendapatkan upah dari pekerjaan serabutan mencuci piring di rumah makan, jika ada yang memanggil.

“Kadang dapat, kadang tidak. Kalau tidak ada, ya kami makan apa yang ada. Kalau tidak ada sama sekali, saya cuma minum air putih,” ujarnya lirih.

Bertahan Dalam Diam, Menanti dengan Sabar

Meski hidup dalam serba kekurangan, Aeman tak pernah menunjukkan rasa marah atau kecewa.

Ia lebih banyak diam, menerima keadaan dengan ikhlas, meski di dalam hatinya menyimpan keinginan yang begitu sederhana: memiliki rumah yang layak.

Bukan rumah besar, bukan pula rumah mewah.

Baca juga: Donggala Layangan Festival 2025 Resmi Dibuka, Diikuti 256 Peserta

Ia hanya ingin tempat tinggal yang tidak bocor saat hujan, tempat di mana ia dan anaknya bisa tidur tanpa khawatir atap akan runtuh atau lantai becek karena air rembesan.

"Kalau bisa, saya hanya ingin rumah yang tidak basah kalau hujan. Itu saja,” ucapnya penuh harap.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved