Minggu, 31 Mei 2026

Kisah Heroik Pierre Tendean, Perwira Muda Gugur Demi Atasannya di G30S/PKI

Pengorbanannya menjadi salah satu kisah paling mengharukan dalam sejarah militer Indonesia.

Tayang:
Editor: Regina Goldie
TRIBUNNEWS
Pierre Andries Tendean, perwira muda lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD), gugur secara heroik dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) setelah berani mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Jenderal Abdul Haris Nasution. 

TRIBUNPALU.COM - Pierre Andries Tendean, perwira muda lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD), gugur secara heroik dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) setelah berani mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Jenderal Abdul Haris Nasution.

Dalam kekacauan malam tragis itu, Tendean mengaku sebagai Jenderal Nasution kepada pasukan Cakrabirawa yang datang menculik.

Tindakannya menyelamatkan sang jenderal, namun membuatnya sendiri ditangkap, disiksa, dan kemudian dibunuh di Lubang Buaya bersama enam perwira tinggi lainnya.

Tindakan heroik Pierre Tendean terjadi saat ia menjabat sebagai ajudan termuda Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal Nasution.

Baca juga: Mengenang Tragedi G30S/PKI, Bendera Setengah Tiang Sebagai Simbol Penghormatan

Ia dipercayakan posisi tersebut sejak April 1965, hanya beberapa bulan sebelum peristiwa G30S/PKI terjadi.

Ketika rumah dinas Jenderal Nasution diserbu, Tendean yang tengah beristirahat segera keluar dan menghadapi pasukan penculik dalam gelapnya malam.

Pengorbanannya menjadi salah satu kisah paling mengharukan dalam sejarah militer Indonesia.

Ia gugur di usia 26 tahun dan mendapat kenaikan pangkat anumerta menjadi Kapten Czi (Anumerta).

Atas jasanya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Revolusi Indonesia.

Pierre Tendean lahir di Batavia pada 1939, dari ayah berdarah Minahasa dan ibu keturunan Prancis-Belanda.

Ia dikenal sebagai sosok cerdas dan tampan, serta populer di kalangan taruna dan masyarakat.

Baca juga: Waspada! Ini 5 Dampak Arsenik bagi Kesehatan Manusia

Meski orang tuanya menginginkan ia menjadi dokter atau insinyur, Tendean memilih menempuh jalur militer.

Selain menjadi ajudan Jenderal Nasution, Pierre Tendean juga sempat terlibat dalam operasi intelijen ke Malaysia saat konfrontasi Indonesia-Malaysia (Operasi Dwikora).

Ia menjalankan misi penyamaran sebagai turis demi mengumpulkan informasi strategis.

Hingga kini, nama Pierre Tendean dikenang sebagai simbol keberanian, pengabdian, dan pengorbanan seorang prajurit muda dalam menjaga keutuhan bangsa. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved