Rabu, 15 April 2026

Sulteng Hari Ini

Gubernur Anwar Hafid Bakal Resmikan Kantor Sinode GKST di Tentena

Pertemuan berlangsung hangat dengan membahas sejumlah agenda kerja sama antara Pemerintah Provinsi Sulteng dan GKST.

Penulis: Zulfadli | Editor: Fadhila Amalia
Ro Adpim Setdaprov Sulteng
KUNJUNGAN - Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menerima audiensi Ketua Umum Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), Pendeta Djadaramo Tasiabe, bersama jajaran di ruang kerjanya, Selasa (30/9/2025). 

1. Gagasan Gereja Pribumi Mandiri (1939)

Pada sebuah konferensi tahun 1939, mulai muncul pemikiran yang diinisiasi oleh J. Kruyt (putra dari A.C. Kruyt) tentang perlunya mengorganisasi Gereja pribumi Sulawesi Tengah secara keseluruhan agar dapat berdiri sendiri.

2. Desakan Perang Dunia II

Masa Perang Dunia II dan pendudukan Jepang mempercepat proses kemandirian gereja. 

Para penginjil membentuk klasis-klasis (setara dengan wilayah gerejawi) dan mengangkat ketua-ketua klasis pribumi untuk memimpin gereja selama masa perang.

3. Sinode Pertama dan Pendirian GKST (1947)

Setelah Perang Dunia selesai, persiapan untuk gereja mandiri dilaksanakan. Puncaknya adalah:

Pelaksanaan Sinode Pertama: Dilaksanakan di Tentena pada tanggal 14-19 Oktober 1947.

Penetapan GKST: Pada tanggal 18 Oktober 1947, Sinode Pertama menetapkan berdirinya Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST). Tanggal ini secara resmi diperingati sebagai hari lahirnya GKST.

Baca juga: Wanita Viral Hina Suku Kaili di Medsos Jalani Sanksi Adat di Kota Palu

Sistem Gereja: GKST menganut sistem Presbyterial Sinodal, yang berarti pemerintahan gereja dijalankan secara sinodal (melalui persidangan sinode) dengan badan-badan jemaat (presbiter) sebagai pelaksananya.
 
Perkembangan Pasca-Kemandirian

Keanggotaan Internasional: Pada tahun 1948, GKST menjadi anggota Dewan Gereja se-Dunia (World Council of Churches).

Keanggotaan Nasional: Pada tahun 1950, GKST menjadi anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).
Pergumulan Sejarah: GKST melewati masa-masa sulit seperti pergolakan DI/TII (1950-1965) dan PERMESTA (1957), serta tragedi konflik di Poso di awal abad ke-21.

Pemekaran: Seiring perkembangannya, sebagian wilayah pelayanan GKST memisahkan diri menjadi gereja yang berdiri sendiri, seperti Gereja Kristen di Luwuk Banggai (GKLB) pada tahun 1966.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved