Parigi Moutong Hari Ini
Curhat Cleaning Service RSUD Anutaloko Parigi, Minta Keadilan agar Tetap Bisa Menafkahi Keluarga
Sebagian besar pekerja mengaku telah mengabdi bertahun-tahun dan menjadi bagian penting dari operasional rumah sakit.
Penulis: Abdul Humul Faaiz | Editor: Regina Goldie
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Abdul Humul Faaiz
TRIBUNPALU.COM, PARIGI MOUTONG - Nasib 26 tenaga Cleaning Service (CS) RSUD Anutaloko Parigi kini berada dalam ketidakpastian setelah kontrak kerja mereka tidak berlanjut seiring pergantian vendor pengelola jasa kebersihan.
Puluhan pekerja tersebut mendatangi DPRD Parigi Moutong, Senin (12/1/2026) kemarin, untuk menyampaikan keluhan dan harapan agar tetap diberi kesempatan bekerja.
Bagi mereka, berhentinya kontrak kerja bukan sekadar persoalan administrasi, tetapi menyangkut kelangsungan hidup keluarga yang bergantung pada upah bulanan.
Sebagian besar pekerja mengaku telah mengabdi bertahun-tahun dan menjadi bagian penting dari operasional rumah sakit.
Selama ini, mereka bertugas menjaga kebersihan ruang perawatan, lorong, hingga fasilitas umum yang digunakan pasien dan tenaga medis.
Pergantian vendor justru membuat mereka harus berhenti bekerja tanpa kejelasan masa depan.
Sebagian pekerja bahkan telah bekerja hingga delapan tahun dan terbiasa menghadapi pergantian sistem alih daya.
Mewakili 26 pekerja, Hasifa menyampaikan bahwa sebelum dilakukan aksi protes, belum ada kepastian terkait gaji dan kelanjutan pekerjaan.
Baca juga: Jelang Paskah 2026, Wabup Sigi Perkuat Silaturahmi Lintas Iman dengan Ketua Utama Alkhairaat
“Kami dipanggil ke ruangan direktur bersama pihak vendor, tetapi belum ada ketetapan bahwa gaji tetap Rp1,5 juta, sehingga kami mengadu ke Bupati dan memohon dengan hati nurani agar kami tetap diberi kesempatan bekerja,” kata Hasifa, di hadapan Komisi IV DPRD Parigi Moutong.
Ia mengungkapkan, saat proses wawancara oleh vendor baru, para pekerja hanya ditawari upah Rp1,3 juta.
Kondisi tersebut berbeda dengan janji vendor sebelumnya yang membuka peluang kenaikan gaji jika pengelolaan tetap dilanjutkan.
Perbedaan itu membuat para pekerja merasa masa depan kesejahteraan mereka semakin tidak pasti.
“Kami sama-sama mau hidup dan mau makan, kalau kami diberhentikan kami mau jadi apa di luar sana, karena itu kami meminta keadilan agar kami bisa tetap bekerja,” ujar Hasifa.
Para pekerja berharap pemerintah daerah dan DPRD melihat persoalan ini dari sisi kemanusiaan, bukan semata-mata dari aspek kontrak.
Mereka menilai negara harus hadir untuk melindungi pekerja kecil agar tidak terlempar menjadi pengangguran.
Bagi 26 cleaning service RSUD Anutaloko Parigi, keadilan berarti kesempatan untuk terus bekerja dan menafkahi keluarga. (*)
| Dian Herdiman Jabat Kajari Parigi Moutong, Purnama Jabat Kajari Sragen |
|
|---|
| 4 Desa Sulteng Kini Bisa Akses Internet, Program Berani Berdering Jadi Solusi |
|
|---|
| FOTO: Penggerebekan Tambang Ilegal di 3 Desa Parigi Moutong |
|
|---|
| Polisi Gerebek Tambang Ilegal di Parigi Moutong, Talang Dibakar hingga Bangunan Dimusnahkan |
|
|---|
| Perkuat Penanganan Darurat Bencana BPBD Parigi Moutong Dapat Bantuan Rp184 Juta dari Pusat |
|
|---|
