Akses Pendidikan di Parimo
Siswa SD Terpencil Bainaa Barat Parigi Moutong Lebih Pilih Jembatan daripada MBG
Peristiwa itu terjadi belum lama di tepi sungai yang selama ini menjadi satu-satunya akses menuju sekolah.
Penulis: Abdul Humul Faaiz | Editor: Regina Goldie
Ringkasan Berita:
- Sejak sekolah dibangun pada 2012, SD Negeri Terpencil Bainaa Barat belum memiliki jembatan penghubung.
- Sungai yang menjadi jalur utama sering meluap, membuat akses ke sekolah menjadi sangat berbahaya, terutama saat hujan deras.
- Siswa SD Negeri Terpencil Bainaa Barat lebih memilih jembatan daripada Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Hal ini terungkap saat guru bertanya kepada siswa mengenai kebutuhan mendesak mereka di tepi sungai.
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Abdul Humul Faaiz
TRIBUNPALU.COM, PARIGI MOUTONG – Siswa SD Negeri Terpencil Bainaa Barat lebih memilih jembatan daripada Program Makan Bergizi Gratis.
SD Negeri Terpencil Bainaa Barat terletak di Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Jawaban itu mereka lontarkan kompak saat guru bertanya dari seberang sungai.
Peristiwa itu terjadi belum lama di tepi sungai yang selama ini menjadi satu-satunya akses menuju sekolah.
Guru berdiri di satu sisi, siswa di sisi lain. Suara diteriakkan melintasi arus air yang mengalir di antara bebatuan.
“Kalian mau pilih MBG atau jembatan?” teriak sang guru.
Baca juga: Lokasi Pantau Hilal di Sulteng Jelang Penentuan Awal Ramadan 2026
“Jembatan!” jawab siswa serempak.
Momen singkat itu menggambarkan kebutuhan paling mendesak bagi lebih dari 40 siswa di sekolah tersebut.
Sejak berdiri pada 2012, SD Negeri Terpencil Bainaa Barat belum memiliki jembatan penghubung.
Guru sekolah itu, Najib Nadir, menjelaskan persoalan terbesar yang dihadapi saat ini adalah akses.
Baca juga: BREAKING NEWS: Tak Ada Jembatan, Siswa SDN Terpencil Bainaa Barat Parimo Sebrangi Sungai Setiap Hari
Sungai yang menjadi jalur utama bisa meluap hingga setinggi satu meter saat hujan, bahkan lebih ketika puncak musim hujan.
“Permasalahan terbesar kami adalah tidak adanya jembatan. Kalau hujan deras, air bisa setinggi satu meter. Siswa kelas 1, 2, dan 3 bisa hanyut kalau menyebrang sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Kami sangat butuh jembatan agar siswa tidak takut lagi datang ke sekolah,” ujarnya kepada TribunPalu.com, Selasa (17/2/2026).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/1000370515jpgsasasa.jpg)