Palu Hari Ini
Fenomena El Nino Godzilla Intai Wilayah Indonesia, Ini Dampaknya di Sulteng
Secara umum, El Nino merupakan fenomena global akibat anomali suhu muka laut yang lebih hangat dari kondisi normal.
Penulis: Zulfadli | Editor: Regina Goldie
Ringkasan Berita:
- Fenomena El Nino, khususnya yang belakangan dikenal dengan istilah "El Nino Godzilla," kembali menjadi perhatian publik.
- Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri BMKG, Asep Firman Ilahi, mengklarifikasi bahwa istilah tersebut bukan berasal dari BMKG, tetapi pertama kali disampaikan oleh peneliti BRIN pada Januari 2026.
- Meskipun demikian, BMKG mengonfirmasi potensi terjadinya fenomena El Nino pada akhir Mei hingga Agustus 2026, dengan kemungkinan sebesar 60 persen.
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli
TRIBUNPALU.COM, PALU – Fenomena El Nino kembali menjadi perhatian, menyusul munculnya istilah “El Nino Godzilla” yang ramai dibicarakan belakangan ini.
Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri BMKG, Asep Firman Ilahi, menegaskan istilah tersebut bukan berasal dari BMKG.
“Istilah El Nino Godzilla ini bukan dari BMKG, melainkan pertama kali disampaikan peneliti dari BRIN pada awal Januari lalu,” ujarnya saat diwawancarai di ruang kerjanya, Jl Dewi Sartika, Palu Selatan, Sabtu (28/3/2026).
Meski demikian, BMKG tidak menutup kemungkinan terjadinya fenomena El Nino tahun ini.
Asep menjelaskan, berdasarkan pemantauan hingga akhir Maret 2026, suhu muka laut di wilayah Pasifik, khususnya indeks Niño 3.4, masih berada pada kondisi netral dan diprediksi akan bergerak menuju fase positif.
“Potensi kejadian El Nino sekitar 60 persen kemungkinan terjadi pada akhir Mei hingga periode Juni, Juli, dan Agustus,” katanya.
Ia menambahkan, BMKG terus memantau perkembangan dinamika atmosfer global dan akan menyampaikan informasi secara berkala agar masyarakat tetap tenang namun tetap waspada.
Secara umum, El Nino merupakan fenomena global akibat anomali suhu muka laut yang lebih hangat dari kondisi normal.
Kondisi ini menyebabkan massa udara dan uap air dari wilayah Indonesia terdorong ke Pasifik tengah hingga timur, sehingga memicu penurunan curah hujan dan kekeringan di wilayah Indonesia.
“Dampaknya adalah kekeringan yang lebih kering dari biasanya,” jelasnya.
Asep menyebut, fenomena El Nino bukan hal baru.
Baca juga: Hari Raya Ketupat, Warga Padati Pantai Hek Nuhon Banggai
Berdasarkan data sejak 1950, kejadian El Nino dan La Nina telah terjadi berulang kali.
Untuk Sulawesi Tengah, El Nino terakhir terjadi pada 2024 dengan kategori lemah hingga sedang, namun tetap memberikan dampak, terutama di sektor pertanian.
| Polresta Palu Bekuk Perempuan 43 Tahun, Terlibat Peredaran Sabu 0,477 Gram |
|
|---|
| Taman Vatulemo Palu Ditutup Sementara Mulai 4-5 Mei 2026, untuk Pembersihan Total |
|
|---|
| Stop Bakar Sampah! Wawali Imelda Ajak Warga Gunakan Layanan Pengangkutan Sampah |
|
|---|
| Wawali Palu Tegur Warga Bakar Sampah di Kelurahan Kamonji, Ingatkan Denda Rp1 Juta |
|
|---|
| Relawan SPPG Pantoloan Palu Curhat Beban Kerja Berat dan Gaji Tak Seimbang di Media Sosial |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/gs87ag-s87ag-as87-gs7a8g7ag7.jpg)