Morowali Hari Ini
Kadis Pertanian Morowali Ubah Strategi Pengadaan Sapi, Fokus pada Indukan Siap Produksi
Ia merinci, jika dihitung dalam satu bulan, jumlah pemotongan sapi bisa mencapai sekitar 150 ekor.
Penulis: Ismet Togean 20 | Editor: Regina Goldie
Ringkasan Berita:
- Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Morowali mengubah strategi pengembangan peternakan sapi untuk memenuhi tingginya kebutuhan daging di daerah.
- Kepala Dinas, Abdul Muttaqin Sonaru, menyatakan sebelumnya bantuan berupa anakan sapi, kini diganti dengan sapi indukan siap produksi agar peternak dapat segera merasakan hasil, dalam 1–2 bulan setelah adaptasi.
Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Ismet
TRIBUNPALU.COM, MOROWALI - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Morowali mengubah strategi pengembangan peternakan sapi guna menjawab tingginya kebutuhan daging di daerah tersebut.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Morowali, Abdul Muttaqin Sonaru, mengungkapkan bahwa konsumsi daging sapi di Morowali tergolong tinggi dan belum sebanding dengan ketersediaan ternak lokal.
“Demikian juga sapi, kebutuhan daging di Morowali ini luar biasa. Setiap hari rata-rata kita menyembelih 5 ekor sapi,” ujarnya.
Ia merinci, jika dihitung dalam satu bulan, jumlah pemotongan sapi bisa mencapai sekitar 150 ekor, dan dalam setahun mencapai 1.800 ekor.
“Angka ini tentu tidak sebanding dengan upaya pengadaan yang kita lakukan selama ini,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya mulai mengubah pola bantuan ternak kepada masyarakat.
Jika sebelumnya bantuan lebih banyak berupa anakan atau bibit, kini diarahkan pada pemberian sapi indukan yang siap produksi.
Baca juga: KP2MI Perkuat Pelindungan PMI Lewat Program Desa Migran Emas
“Tahun ini kita mencoba pendekatan baru, pengadaan sapi bukan lagi anakan atau bibit, tetapi langsung indukan siap jadi,” katanya.
Menurutnya, langkah tersebut diambil agar peternak dapat lebih cepat merasakan hasil dari usaha ternak yang dijalankan.
“Dengan kita bantu indukan yang sudah siap, dalam waktu 1–2 bulan setelah adaptasi, sapi sudah bisa berproduksi. Artinya di tahun yang sama sudah bisa menghasilkan anak,” jelasnya.
Ia menambahkan, jika bantuan diberikan dalam bentuk bibit, maka membutuhkan waktu yang cukup lama hingga bisa berproduksi.
Hal ini kerap menjadi kendala bagi peternak.
Baca juga: Pemkab Sigi Ajukan Perubahan Raperda Pajak dan Retribusi Daerah
“Kalau bibit, rentang waktunya terlalu lama. Peternak jadi jenuh karena belum ada hasil, sementara biaya pemeliharaan terus berjalan,” ungkapnya.
| Pemkab Morowali Genjot Inovasi Pertanian untuk Atasi Keterbatasan Lahan |
|
|---|
| Kadis Pertanian Morowali Prioritaskan Pengembangan Ayam Petelur untuk Penuhi Kebutuhan Telur |
|
|---|
| Pembacokan di Lorong Bandara Bahodopi Morowali, Korban Luka di Kepala |
|
|---|
| Bea Cukai Morowali Gencarkan Pemberantasan Rokok Ilegal di Kawasan Industri IMIP |
|
|---|
| Distribusikan 1.453 Porsi MBG, SPPG Dampala Gandeng UMKM Lokal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/sya789f7s8af-t7s8a-tf78a-tf78atf78a.jpg)