Rabu, 20 Mei 2026

Sulteng Hari Ini

Ngopi Kerukunan di Loop Circle Cafe, Membedah Berani Berkah sebagai Basis Moral Sulteng Nambaso

Ia menekankan bahwa kepercayaan dari setiap majelis agama adalah kunci agar gagasan toleransi yang diusung FKUB benar-benar menjadi milik bersama.

Tayang:
Editor: Regina Goldie
Handover
Suasana santai namun sarat makna mewarnai kegiatan Ngobrol Pintar (Ngopi) Kerukunan yang digelar oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Tengah di Loop Circle Cafe, Jumat (15/5/2026). 

Moderasi beragama dijelaskan Prof Zainal, bukanlah menggabungkan agama. Tetapi moderasi beragama ialah cara kita beragama itulah yang moderat menerima berbagai perbedaan dan saling menghargai.

"Praktik moderasi itu sederhana, saya tetap Islam, bapak-ibu tetap dengan agama masing-masing, tapi kita bisa duduk berdampingan dengan damai seperti ini," imbuhnya.

Gubernur Sulteng, Anwar Hafid memberikan penajaman bahwa kemajuan sebuah daerah sangat bergantung pada seberapa kuat nilai-nilai spiritual terinternalisasi dalam masyarakat.

Ia merujuk pada pengalamannya memimpin Morowali, di mana penerapan nilai spiritual mampu membawa daerah menjadi lebih sejahtera.

Baca juga: Etape Ketiga, MAXI Tour Boemi Nusantara Jelajahi Surga Wisata Lampung

"Semua sejarah pemerintahan hancur bukan karena kekuatannya lemah, tapi karena penerapan nilai-nilai spiritual ditinggalkan. Jika ingin rakyat sejahtera, nilai spiritual harus mewujud dalam keseharian," jelas Anwar Hafid.

Ia menceritakan pengalamannya saat berbicara di hadapan perwakilan 28 negara di UGM, di mana para ahli sepakat bahwa landasan spiritual harus menjadi pilar utama pembangunan bangsa.

Di Sulteng, ia mendorong agar seluruh umat baik Islam melalui masjid maupun Kristen melalui gereja, dan seluruh agama aktif menghidupkan rumah ibadahnya.

"Berani Berkah ini bersifat umum. Kalau orang terbiasa 'berjamaah' dan mendengar ceramah ustadz, pendeta, atau mangku setiap hari, mereka tidak akan mudah dipengaruhi hal-hal negatif. Saya kira toleransi di Indonesia ini sudah final, tinggal bagaimana kita menguatkannya melalui nilai spiritual," tutup Gubernur.

Pemilik Loop Circle Cafe, Mardiman Sane, menyambut hangat dialog ini.

Baca juga: Perangi Hoaks di Era AI, Diskominfosantik Sulteng Siapkan Platform Klinik Hoaks

Sebagai tokoh muda, ia merasa tertarik memfasilitasi dialog ini karena konsep "Ngopi" membuat pembicaraan tentang kerukunan menjadi lebih cair dan asyik.

Kemeriahan Ngopi Kerukunan kali ini tergambar dari banyak perwakilan agama yang hadir.

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulteng, Pelopor Kerukunan Dunia Maya (PKDM), Kaukus Lintas Agama, Gereja Protestan Indonesia Donggala, Bala Keselamatan Komdiv Palu Raya, PW Muhammadiyah, Gereja Kristen Sulawesi Tengah, Pdt. Darma Salata, S.Th, Wahana Visi Indonesia, Pastor Rikon Patiama, Pr, PB Alkhairaat, Pimpinan Wilayah DDI Sulteng,

Ketua Dewan Kepanditaan Daerah (DKD) Prov. Sulteng, Wijaya Chandra, Pdt. Samuel Ferry, Perwakilan Gereja Protestan di Indonesia, Made Wiranadi Sekretaris Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sulteng.

Sumber: Tribun Palu
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved