Selasa, 19 Mei 2026

Podcast DPRD Morowali

Dari Trotoar ke Parlemen, Kisah Asgar Wahab Merajut Asa di DPRD Morowali

Namun, panggung politik rupanya memberi Asgar pelajaran berharga lewat sebuah kekalahan telak.

Tayang:
Editor: Regina Goldie
Ringkasan Berita:
  • Asgar Wahab, anggota DPRD Kabupaten Morowali yang kini menjabat untuk periode kedua, dulunya adalah Anak Jalanan yang hidup di trotoar. 
  • Karier politiknya dimulai dari bawah, sebagai pengurus tingkat kecamatan selama 18 tahun, sebelum akhirnya terpilih pada Pemilu 2019 setelah gagal di Pemilu 2014.
  • Kegagalan awalnya membuka kesadaran bahwa politik membutuhkan dukungan finansial dan strategi matang.

TRIBUNPALU.COM - Di balik jas rapi dan lencana anggota DPRD Kabupaten Morowali yang kini dikenakannya, Asgar Wahab menyimpan cerita masa lalu yang getir. 

Siapa sangka, pria yang kini sudah mengamankan kursi legislatifnya untuk periode kedua ini dulunya adalah seorang Anak Jalanan yang akrab dengan kerasnya hidup di trotoar.

Perjalanan Asgar menuju gedung parlemen tidaklah instan.

Ia merintis karier politiknya benar-benar dari bawah, menjadi pengurus tingkat kecamatan (PAC) selama 18 tahun, jauh sebelum namanya tercantum di surat suara.

Namun, panggung politik rupanya memberi Asgar pelajaran berharga lewat sebuah kekalahan telak pada Pemilu 2014 lalu.

"Waktu gagal di periode pertama tahun 2014, saya sadar politik tidak cukup modal budi baik saja. Di era sekarang, pemahaman masyarakat melihat legislatif itu harus punya modal besar. Istilahnya, kita butuh full financial untuk biaya operasional yang memang sangat besar," kenang Asgar terbuka.

Baca juga: Pemkab Donggala Distribusikan 45 Ribu Kilogram Benih Jagung untuk Dukung Ketahanan Pangan

Kekalahan itu sempat diperparah dengan kondisi bisnis sembako dan kelapa sawitnya yang sempat jatuh bangun hingga titik nadir.

Namun, alih-alih menyerah, mantan pengusaha ini bangkit memetakan strategi baru.

Asgar mulai membangun komunikasi intensif dan bersinergi dengan pihak eksekutif, mulai dari tingkat Bupati hingga Gubernur.

Jembatan komunikasi inilah yang kemudian memuluskan jalannya hingga berhasil terpilih pada Pemilu 2019, dan kembali lolos dalam apa yang disebut banyak orang sebagai "pertarungan neraka" pada Pemilu 2024 kemarin.

Menariknya, meski sudah tujuh tahun menyandang status sebagai pejabat daerah, Asgar memilih menolak berubah.

Ia enggan menjaga jarak dengan masyarakat demi menjaga gengsi sebuah jabatan.

"Basic saya ini Anak Jalanan. Saya dulu hidup di bawah jembatan, di atas trotoar. Jadi ngapain harus berubah setelah jadi pejabat? Apa yang mau dibanggakan? Kita terpilih juga karena masyarakat. Banyak teman-teman yang gagal duduk kembali karena ketika sudah menjabat, mereka berubah dan menjauhi konstituennya," tuturnya.

Baca juga: LBH Rakyat Desak Disnakertrans Panggil Bupati Donggala Soal Gaji dan Status Kerja Honorer

Prinsip hidup yang membumi ini membuat rumah dan ruang kerja Asgar selalu ramai ketukan pintu warga. Keluhan yang datang pun beragam, bahkan terkadang mengundang senyum.

Ia bercerita, tidak jarang ada warga yang datang membawa masalah rumah tangga dan meminta bantuannya untuk mengurus perceraian.

Namun di antara sekian banyak aduan, Asgar mengaku paling tersentuh ketika didatangi oleh orang tua kurang mampu yang kebingungan memikirkan biaya kuliah anaknya.

Bagi Asgar, membantu generasi muda Morowali untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi adalah sebuah panggilan hati, meskipun harus merogoh kocek yang tidak sedikit.

"Itu tantangan sekaligus kebanggaan terbesar buat saya. Ketika melihat anak-anak itu akhirnya berhasil dan lulus kuliah, rasanya semua perjuangan ini terbayar tuntas. Alhamdulillah," tutup Asgar. (*)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved