Minggu, 31 Mei 2026

Toleransi Solidaritas dan Persaudaraan Sebagai Aset Membangun Harmonisasi Sesama Anak Bangsa

Bahkan hari raya qurban dan ibadah haji di tanah suci merupakan bentuknya yang konkret.

Tayang:
Editor: Regina Goldie
Handover
Prof Zainal Abidin. 

Oleh: Prof Zainal Abidin (Guru Besar UIN Datokarama, Rois Syuriyah PBNU, Ketua FKUB Provinsi Sulteng,dan Ketua MUI Kota Palu)

TRIBUNPALU.COM - Hari raya qurban adalah sangat terkait dengan pengalaman rohani seorang tokoh dan pemimpin umat manusia, Nabi Ibrahim AS.

Bahkan hari raya qurban dan ibadah haji di tanah suci merupakan bentuknya yang konkret dan yang lebih lengkap.

Sehingga dapat dikatakan, bahwa semua itu adalah usaha pelestarian pengalaman Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail.

Ibrahim tampil dalam pentas sejarah sekitar 3731 tahun yang lalu atau sebagian ahli sejarah berpendapat beliau lahir sekitar 2000 tahun sebelum masehi.

Ia berasal dari Babilonia, ia adalah seorang anak dari seorang pematung istana yang bernama Azar.

Nampaknya sejak usia bocah Ibrahim menunjukkan cara berfikir yang tajam dan kritis tentu saja oleh hidayah Ilahi.

Suatu ketika, ia menyaksikan sesuatu yang tidak masuk akalnya, di mana ayahnya memahat batu, setelah selesai dan batu berubah menjadi patung, kemudian sang ayah menyembahnya.

Baca juga: MUI Palu Salurkan Hewan Kurban Bantuan PT Neo Energy, Prof Zainal : Industri Peduli Sosial Spiritual

Ibrahim memberontak dan untuk itu,ia harus di hukum bakar namun diselamatkan oleh Allah swt. akhirnya ia hijrah ke Palestina.

Suatu saat Ibrahim di perintah oleh Allah agar melepaskan atau meninggalkan isteri dan anaknya ditengah padang yang tandus dan kering.

Itulah yang kemudian menjadi tempat yang didatangi oleh umat Islam dari pelosok dunia untuk menunaikan ibadah haji yaitu Makkah Al-Mukarramah.

Sitti Hajar isteri Nabi Ibrahim dengan penuh ketabahan dan kesabaran taat kepada perintah Allah, rela untuk ditinggal suami, walau terasa amat berat, kalau nanti persediaan bekal akan habis.

Hal ini harus menjadi contoh dan teladan yang berharga kepada para istri yang hidup di zaman ini.

Tapi puncak dari segala ujian itu ialah perintah Allah agar Ibrahim menyembelih putra kesayangannya, putra yang begitu lama ditunggu dan dirindukan, darah daging satu-satunya yang diharapkan melanjutkan keturunan tapi justru harus disembelih oleh tangannya sendiri.

Sumber: Tribun Palu
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved