Podcast DPRD Morowali
Akhmad Efendi: Menjaga Morowali Agar Tetap Subur, Religius, dan Sejahtera
Ia ingin anak cucu kelak masih bisa menikmati bumi Morowali yang subur, religius, dan sejahtera.
Bagi Efendi, rahasia di balik kesetiaan ribuan pemilihnya itu sederhana saja, yaitu konsistensi silaturahmi. Ia adalah tipe legislator yang jika mendengar ada warga kesusahan atau hendak melahirkan, akan langsung menyetir mobilnya sendiri untuk mengantar ke rumah sakit.
"Kalau kita rasa orang dipercaya rakyat itu berat ya, amanah Allah itu berat. Andalan kami selama ini adalah silaturahmi. Di mana pun berada tetap harus bisa komunikasi dengan rakyat dan peduli pada kebutuhan nyata mereka, seperti masalah pertanian, pendidikan, dan kesehatan," jelasnya.
Baca juga: Perusahaan Tambang Sulteng Wajib Penuhi KTT, MOMI, dan RKAB Sekaligus
Namun, di balik pembawaannya yang tenang, tersimpan kegelisahan besar dalam benak legislator senior ini ketika melihat Morowali hari ini.
Sebagai orang yang besar dari sektor pertanian, Efendi menatap cemas riuh rendah industri pertambangan yang mulai mengintip wilayahnya di Witaponda.
Bagi Efendi, Witaponda adalah harga mati sebagai lumbung pangan Morowali yang harus dijaga dari kerukan alat berat.
Ia tidak menampik bahwa tambang membawa PAD yang melimpah dan lapangan kerja yang luas di wilayah seperti Bahodopi.
Namun, ia mengingatkan sebuah kebenaran mutlak: tambang suatu saat akan habis dan meninggalkan liang galian, sementara perut manusia tidak bisa berhenti mengonsumsi beras.
Konflik lahan dan berubahnya sumber air yang mulai dirasakan warga adalah alarm keras yang harus didengar pemerintah.
"Saya berharap di Witaponda dapil saya itu tidak ada pertambangan. Cukup karena permasalahan di sana sebagai lumbung pangan. Nanti kalau ini ada banyak pertambangan, bisa-bisa lumbung pangan Morowali habis. Persoalan pertambangan ini ada jangka waktunya, tapi kalau soal pertanian ini panjang masa depannya untuk anak cucu kita. Orang Bahodopi juga butuh padi untuk makan, jangan sampai kita ambil dari luar," tegas Efendi dengan nada serius.
Baca juga: Musliman: Ketiadaan KTT dan MOMI Jadi Penghambat RKAB Perusahaan Tambang
Efendi memimpikan sebuah keseimbangan. Ketika industri nikel di daerah lain menghasilkan uang melimpah, Morowali harus menyiapkan sekoci penyelamat ekonomi masa depan lewat sektor pariwisata dan pelestarian alam, seperti keindahan Sombori yang tak kalah dari Raja Ampat.
Belajar dari daerah perkembangannya di Jawa Timur seperti Banyuwangi dan Malang, ia yakin keindahan alam yang dirawat tidak akan pernah habis menghasilkan kesejahteraan.
"Tambang itu bisa habis, semua itu ada batasnya. Tapi dengan membangun alam, alam itu tidak ada habisnya. Ini yang harus dipahami oleh pemerintah hari ini supaya PAD kita berkesinambungan. Mari kita bangun juga daerah wisata religi atau wisata alam agar seimbang antara bekerja, ibadah, dan rekreasi," tambahnya.
Perjalanan 15 tahun mengabdi tentu bukan waktu yang singkat.
| Putra Bonewa: Politik Sebagai Jalan untuk Membantu Lebih Banyak Orang |
|
|---|
| Herlan Anggota DPRD Morowali, Dari Mantan Tukang Ojek dan Buruh Kasar Kini 2 Periode di Parlemen |
|
|---|
| Dilantik di Umur 27 Tahun, Gen Z Jadi Legislator DPRD Morowali |
|
|---|
| Dari Penjual Bensin Eceran hingga Tembus DPRD Morowali, Ini Kisah Inspiratif Irham |
|
|---|
| Kisah Nurianti Karim, Anggota DPRD Morowali Terima Aduan Warga hingga Tengah Malam |
|
|---|