OPINI
Frekuensi Versus Algoritma, Siapa Pengendali Ruang Publik Hari Ini?
Dalam konteks ini, ruang publik menghadapi tantangan baru yang tidak pernah dibayangkan pada era penyiaran konvensional.
Namun kini sebagian kekuatan tersebut berpindah kepada perusahaan teknologi global yang mengelola platform digital.
Mereka memiliki kemampuan menentukan informasi apa yang lebih sering dilihat masyarakat, konten apa yang berpotensi menjadi viral, serta isu apa yang memperoleh perhatian luas.
Di balik kemudahan tersebut, terdapat satu kekuatan yang sering kali tidak terlihat secara langsung, yakni Algoritma.
Algoritma adalah serangkaian sistem yang digunakan platform digital untuk menentukan konten apa yang akan muncul di layar pengguna.
Setiap klik, pencarian, tanda suka, komentar, dan durasi menonton menjadi data yang diproses untuk menyajikan konten yang dianggap paling relevan bagi masing-masing individu.
Perubahan ini membawa konsekuensi penting. Jika dahulu informasi diseleksi oleh editor manusia, kini sebagian besar informasi yang diterima masyarakat disaring oleh Algoritma.
Algoritma bekerja dengan mengumpulkan dan menganalisis data perilaku pengguna, mulai dari apa yang dicari, ditonton, disukai, hingga dibagikan.
Berdasarkan data tersebut, sistem akan menentukan konten apa yang dianggap paling relevan untuk ditampilkan kepada setiap individu.
Baca juga: Kanal Pengaduan Digital Kementerian ATR/BPN, Jembatan Aspirasi Menuju Layanan Publik Lebih Baik
Di sinilah terjadi pergeseran besar dalam pengendalian ruang publik.
Algoritma tidak hanya berfungsi sebagai alat teknis, tetapi juga menjadi penentu utama arus informasi.
Konten yang muncul di layar pengguna bukan semata-mata karena penting atau bernilai bagi publik, melainkan karena diprediksi mampu menarik perhatian dan meningkatkan interaksi.
Kekuatan Algoritma bahkan sering kali bekerja tanpa disadari. Ia tidak memaksa, tetapi mengarahkan.
Ia tidak memerintah, tetapi mempengaruhi. Ia tidak selalu terlihat, tetapi mampu membentuk persepsi, preferensi, dan bahkan keputusan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.
Perkembangan tersebut telah mengubah lanskap tersebut secara drastis. Kini masyarakat tidak lagi hanya memperoleh informasi dari radio, televisi, atau surat kabar.
Sebagian besar informasi justru hadir melalui media sosial, mesin pencari, platform video, dan berbagai aplikasi digital yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja.
| Mengulik Hubungan Musik Digital, Media Sosial, dan Kampanye Politik di Era Ekonomi Perhatian |
|
|---|
| Konflik Kepentingan di Balik Rangkap Jabatan |
|
|---|
| Opini: HATAM 2026 Momentum Penyelamatan Ruang Hidup Dari Konsesi Tambang di Sulawesi Tengah |
|
|---|
| Menakar Keabsahan Kebijakan Rektor dalam Bingkai Checks and Balances |
|
|---|
| Dialektika Kekisruhan Rapat Senat Untad Jelang Pilrek: Benarkah Peraturan Senat Bertentangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Andi-Kaimuddin-2026.jpg)