Kamis, 11 Juni 2026

OPINI

Frekuensi Versus Algoritma, Siapa Pengendali Ruang Publik Hari Ini?

Dalam konteks ini, ruang publik menghadapi tantangan baru yang tidak pernah dibayangkan pada era penyiaran konvensional.

Tayang:
Editor: mahyuddin
TribunPalu.com
OPINI - Ketua Komisi Penyiaran Daerah Indonesia (KPID) Sulawesi Tengah, Andi Kaimuddin. Penulis opini berjudul FREKuENSI VERSUS ALGORITMA,SIAPA PENGENDALI RUANG PUBLIK HARI INI? 

Ruang publik yang sebelumnya relatif terpusat berubah menjadi ruang yang sangat luas, terbuka, dan dinamis.

Akibatnya, dua orang yang menggunakan platform yang sama dapat memperoleh informasi yang sangat berbeda mengenai isu yang sama.

Apa yang muncul di beranda media sosial seseorang bukan lagi semata-mata hasil pilihan redaksi atau jurnalis, melainkan hasil perhitungan Algoritma yang dirancang untuk meningkatkan keterlibatan pengguna.

Dalam konteks inilah muncul pertanyaan penting, siapa sebenarnya yang mengendalikan ruang publik saat ini?

Perhatian publik menjadi komoditas yang diperebutkan. Dalam ekonomi digital, perhatian memiliki nilai yang sangat tinggi.

Semakin lama seseorang berada di sebuah platform, semakin besar peluang platform tersebut memperoleh keuntungan. 

Karena itu, algoritma dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin, bahkan jika harus mengutamakan konten yang sensasional, emosional, atau kontroversial.

Fenomena ini menjelaskan mengapa informasi yang belum tentu benar sering kali menyebar lebih cepat dibandingkan informasi yang telah diverifikasi.

Hoaks, disinformasi, dan narasi provokatif sering memperoleh ruang yang lebih besar karena mampu memancing reaksi pengguna.

Dalam konteks ini, ruang publik menghadapi tantangan baru yang tidak pernah dibayangkan pada era penyiaran konvensional.

Tantangan lainnya adalah masalah transparansi.

Berbeda dengan regulasi penyiaran yang memiliki aturan dan mekanisme pengawasan yang jelas, cara kerja algoritma platform digital sering kali tidak diketahui secara terbuka.

Publik tidak selalu memahami mengapa suatu konten muncul, mengapa suatu isu menjadi tren, atau mengapa informasi tertentu lebih banyak tersebar dibandingkan informasi lainnya.

Padahal, keputusan-keputusan tersebut memiliki dampak besar terhadap pembentukan opini publik.

Dalam situasi demikian, keberadaan media penyiaran dan media massa yang profesional tetap memiliki peran penting.

Sumber: Tribun Palu
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved