Palu Hari Ini

Kehilangan Istri dan Anak saat Bencana, Lisman Datangi Lokasi Likuefaksi Petobo Hampir Setiap Hari

Di kawasan yang hancur karena likuefaksi itu, masyarakat Petobo meyakini masih ada ratusan jasad yang tertimbun.

Penulis: Haqir Muhakir |
TRIBUNPALU.COM/Muhakir Tamrin
Lisman alias Bucek, korban likuefaksi Petobo sedang mengunjungi area eks likuifaksi, Rabu (31/7/2019) sore. 

TRIBUNPALU.COM, PALU -- Bencana alam gempa bumi dan tsunami, termasuk likuefaksi di Provinsi Sulawesi Tengah, sudah berlalu tepat sepuluh bulan yang lalu

Di Kota Palu, wilayah yang paling parah terdampak likuefaksi pada 28 September 2018 lalu, yakni Kelurahan Petobo di Kecamatan Palu Selatan.

Berdasarkan data Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), luasan atau cakupan likuefaksi di wilayah Petobo, Kota Palu mencapai 180,06 hektare.

Di kawasan yang hancur karena likuefaksi itu, masyarakat Petobo meyakini masih ada ratusan jasad yang tertimbun.

Sehingga, tak sedikit masyarakat yang setiap hari mengunjungi lokasi likuefaksi tersebut.

Lisman alias Bucek, korban likuefaksi Petobo sedang mengunjungi area eks likuifaksi, Rabu (31/7/2019) sore.
Lisman alias Bucek, korban likuefaksi Petobo sedang mengunjungi area eks-likuefaksi, Rabu (31/7/2019) sore. (TRIBUNPALU.COM/Muhakir Tamrin)
Lisman alias Bucek, korban likuefaksi Petobo sedang mengunjungi area eks likuifaksi, Rabu (31/7/2019) sore.
Lisman alias Bucek, korban likuefaksi Petobo sedang mengunjungi area eks-likuefaksi, Rabu (31/7/2019) sore. (TRIBUNPALU.COM/Muhakir Tamrin)

Seperti yang dilakukan oleh Lisman alias Bucek, seorang warga Kelurahan Petobo yang kehilangan istri dan dua anak gadisnya saat bencana likuefaksi terjadi.

Lisman alias Bucek, yang saat ini tinggal di hunian sementara Petobo, hampir setiap hari berkunjung ke area eks-likuefaksi.

Bahkan tak jarang Lisman datang dan beristirahat di lokasi yang dia yakini sebagai tempat anak dan istri tercintanya tertimbun.

"Selama satu bulan, dua hari pascabencana, saya setiap hari mencari istri dan anak, tapi tidak juga ketemu, sampai dengan hari ini," ujar Lisman, saat ditemui TribunPalu.com di area eks-likuefaksi Petobo, Rabu (31/7/2019) sore.

Dengan nada sendu, Lisman bercerita saat malapetaka likuefaksi itu terjadi dan menelan anak dan istrinya.

Istri Lisman bernama Fatmawati, sedangkan anak pertamanya bernama Nur Ainun dan si bungsu Riski Akila.

Anak pertamanya, seharusnya sudah masuk perguruan tinggi ada tahun ini, sedangkan si bungsu sudah belajar di PAUD.

Pada Jumat 28 September 2018 sore, Lisman bersama keluarga sedang berada di rumah kerabat yang sedang melaksanakan hajatan.

Lokasi rumah hajatan hanya berjarak beberapa rumah dari kediaman Lisman.

Tepat sebelum magrib, Lisman harus membeli bohlam lampu di toko yang tak jauh dari rumah hajatan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Palu
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved