Hasil Otopsi Ungkap George Floyd Positif Covid-19, Kemungkinan Tidak Bergejala Sebelum Meninggal

George Floyd positif virus corona Covid-19 beberapa minggu sebelum kematiannya. Namun, belum diketahui apakah ia menjadi carrier atau tidak.

tmsp.com via Tribunnews.com
George Floyd dan polisi yang menindihnya dengan lutut, Derek Chauvin. 

TRIBUNPALU.COM - Kematian warga Afrika-Amerika George Floyd yang disebut karena ditindih oleh polisi menggunakan lutut memicu gelombang unjuk rasa di berbagi wilayah di Amerika Serikat.

Dia sempat mengatakan "saya tak bisa bernapas" (I can't breathe) saat ditindih hingga akhirnya meninggal dunia.

Hasil autopsi lembaga independen pun mengatakan tidak hanya tindihan pada leher George Floyd saja, tetapi tindihan pada punggung George juga disebut sebagai pemicu kematian.

Namun baru-baru ini, beredar informasi baru terkait kematian George Floyd.

Dilansir Kontan.co.id, George Floyd dites positif virus corona beberapa minggu sebelum kematiannya.

Melansir NBCNews, dokumen setebal 20 halaman yang dirilis oleh Kantor Pemeriksa Medis Kabupaten Hennepin mengatakan pengetesan yang dilakukan pada 3 April 2020 terhadap George Floyd positif untuk kode genetik virus, atau RNA.

Karena RNA itu dapat tetap berada dalam tubuh seseorang selama berminggu-minggu setelah penyakitnya hilang, otopsi mengatakan, tes positif kedua setelah kematiannya kemungkinan berarti bahwa George Floyd, 46 tahun, tidak menunjukkan gejala dari infeksi sebelum dia meninggal pada 25 Mei 2020.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS mengatakan tes RNA positif tidak selalu berarti virus itu menular.

Akan tetapi, masih belum jelas apakah George Floyd sudah mengalami gejala atau merupakan pembawa (carrier) yang tidak menunjukkan gejala.

Kata Istana dan Kemenkominfo soal Vonis Bersalah Jokowi dan Menkominfo atas Blokir Internet di Papua

Daftar 100 Universitas Terbaik di Indonesia Tahun 2020 versi 4ICU, UGM Pertama, UI Peringkat Kedua

Pidato Barack Obama kepada Kaum Muda Kulit Hitam di AS: Saya Ingin Kalian Tahu Bahwa Kalian Berarti

Sebelumnya, Reuters memberitakan, dua orang dokter yang melakukan otopsi independen terkait kematian George Floyd mengatakan pada hari Senin ia meninggal karena sesak napas dan kematiannya adalah aksi pembunuhan.

Melansir Reuters, para dokter juga mengatakan George Floyd tidak memiliki kondisi medis dasar yang berkontribusi pada kematiannya.

Dijelaskan pula, ia kemungkinan meninggal sebelum dimasukkan ke dalam ambulans.

Hasil otopsi independen itu bertentangan dengan temuan awal otopsi resmi oleh Pemeriksa Medis Kabupaten Hennepin, yang dikutip dalam dokumen tuntutan pengadilan terhadap petugas polisi yang mendorong lututnya ke leher George Floyd selama beberapa menit.

Temuan awal itu mengatakan tidak ada bukti pencekikan traumatis.

Halaman
12
Sumber: Kontan
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved