Breaking News:

Virus Corona

Singapura Pernah Umumkan Damai dengan Covid-19, Kini Lockdown Gara-gara Klaster Karaoke Plus-plus

 Singapura yang mengumumkan hidup berdamai dengan Covid-19 kembali melakukan lockdown parsial. Gara-gara muncul klaster baru dari klaster Karaoke Plus

Editor: Putri Safitri
Roslan Rahman / AFP/Getty Images via cnet.com
Singapura. 

Cepatnya penularan varian Delta menjadi ancaman bagi banyak negara, termasuk negara-negara maju.

Salah satu negara maju yang kini bergulat dengan deraan varian Delta adalah Amerika Serikat.

Dalam 30 hari terakhir, jumlah rata-rata kasus baru harian COVID-19 di AS meningkat tiga kali lipat.

Berdasarkan catatan Reuters, pada hari Minggu tercatat ada 32.136 kasus baru.

Saat ini, jumlah rata-rata pasien yang perlu dirawat di rumah sakit juga meningkat 21 persen atau sekitar 19.000 pasien. Pekan lalu, angka kematian pun naik 25 persen, menjadi rata-rata 250 kematian per hari.

Ilene Risk, seorang epidemiolog di Salt Lake County, Utah, mengatakan, 90 persen kasus baru disebabkan oleh varian Delta.

Untuk menghambat penularan, sejumlah negara bagian dan pemerintah di kota-kota besar, salah satunya Los Angeles, meminta warga untuk kembali mengenakan masker.

American Academy of Pediatrics pada Senin (19/7/2021) atau Selasa (20/7/2021) juga mengeluarkan rekomendasi terbaru untuk sekolah-sekolah di AS, salah satunya tentang pemakaian masker untuk semua orang di atas usia 2 tahun.

Selain masker, vaksinasi juga menjadi perhatian penting. Dalam sebuah konferensi pers yang digelar Senin, Wali Kota New York City Bill de Blasio mengatakan, ia akan melipatgandakan upaya vaksinasi.

Pemerintah meminta dukungan dari para dokter dan pemuka agama untuk membujuk warga yang memenuhi syarat untuk mau divaksin.

Desakan untuk vaksinasi juga diungkapkan oleh Presiden AS Joe Biden. Merujuk data peningkatan kasus di wilayah-wilayah dengan tingkat vaksinasi rendah, Biden mengatakan, pemulihan ekonomi sangat bergantung pada keberhasilan pengendalian pandemi.

”Jadi tolong, tolong (mau) divaksinasi,” pinta Biden. ”Segera vaksinasi sekarang.”

Mendukung langkah pemerintah, seorang hakim federal pada Senin memutuskan bahwa Universitas Indiana dapat mengharuskan siswa untuk divaksinasi.

Putusan menggugurkan tuntutan yang diajukan sejumlah pihak yang menyatakan, berdasar hak-hak yang dijamin Konstitusi AS mereka bisa menolak vaksin.

Keputusan hakim federal itu dapat menjadi preseden untuk perintah vaksinasi serupa, baik di lingkungan persekolahan maupun bisnis. Terkait putusan itu, pengacara yang mewakili penggugat berencana akan mengajukan banding.

Eropa

Seperti halnya AS, Eropa saat ini juga menghadapi ancaman serupa yang ditimbulkan varian Delta. Eropa dalam delapan hari terakhir mencatat ada 1 juta kasus baru.

Total, sejak awal pandemi, tercatat ada 50 juta kasus positif COVID-19 di Eropa. Rusia merupakan negara Eropa yang paling parah terdampak. Sejak awal pandemi, di Rusia tercatat ada—nyaris—6 juta kasus COVID-19.

Sejak kasus pertama dilaporkan terjadi di Eropa, dalam waktu 350 hari, jumlahnya mencapai 25 juta.

Namun, munculnya varian-varian baru, terutama varian Delta, membuat penularan COVID-19 di Eropa melesat cepat.

Hanya dalam waktu 194 hari, angka kasus di Eropa telah melewati angka 50 juta.

Pengunjuk rasa antivaksin membawa plakat berisi penolakan pada paspor vaksin dalam unjuk rasa di Parliament Square di luar gedung Parlemen Inggris di London, Senin (19/7/2021).

Meningkatnya kasus baru di Eropa menimbulkan efek negatif pada pasar. Pada Senin, saham merosot hingga lebih dari 2 persen—terburuk dalam sembilan bulan terakhir. Russ Mould, Direktur Investasi pada AJ Bell, mengatakan, situasi pandemi di Eropa telah membuat investor sangat khawatir.

”Covid menyebar lagi dengan cepat, dan maskapai penerbangan, restoran, serta biro-biro wisata mungkin tidak menikmati kuatnya pasar musim panas yang telah lama mereka harapkan,” kata Mould yang juga mengatakan, ”perdagangan musim panas yang kuat yang telah lama mereka harapkan.”

Menyikapi situasi terakhir di Eropa, sejumlah negara menerapkan kembali kebijakan pembatasan.

Pekan lalu, Pemerintah Belanda mengumumkan akan menerapkan kembali pedoman kerja dari rumah, serta pembatasan untuk bar, restoran, dan klub malam. Langkah itu muncul hanya beberapa minggu setelah Belanda mencabut ketentuan itu.

Sementara itu, Pemerintah Yunani akan menerapkan aturan yang mewajibkan pelanggan restoran, bar, dan kafe dalam ruangan untuk membuktikan bahwa mereka telah divaksinasi.

Pemerintah Perancis juga akan mengambil langkah serupa. Perancis, mulai Agustus nanti, mewajibkan warga—bila berada di tempat umum—untuk menunjukkan bukti bahwa mereka telah divaksin.

Selain itu, Perancis juga mewajibkan petugas-petugas kesehatan untuk divaksin COVID-19.

12 Gejala Terinfeksi varian Delta

virus corona varian Delta menjadi momok paling menakutkan. Sifatnya yang mudah menular dan sangat mematikan, menjadi alasan organisasi kesehatan dunia (WHO) menjadikan virus ini sebagai perhatian.

varian Delta pertama kali ditemukan di India dan kini menyebar di hampir seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Oleh karena itu, masyarakat perlu mewaspadai gejala serta cara penularan virus corona varian baru yang pertama kali ditemukan di India, varian Delta

Setiap varian virus corona memiliki ciri-ciri yang berbeda terutama pada tingkat penularannya. Karenanya, masyarakat perlu memahami bagaimana gejala dan cara penularan masing-masing varian. 

Dokter spesialis paru RSUI dr. Gatut Priyonugroho menjelaskan, varian Delta lebih menular dibandingkan dengan varian Alpha yang pertama kali terdeteksi di Inggris. 

“virus corona varian Alpha dari Inggris bisa menular dari satu orang kepada enam orang, dan varian Delta dari satu orang menularkannya kepada delapan orang," kata dr. Gatut dalam webinar Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) seperti dikutip dari laman UI. 

"Angka tersebut tidak saklek, tapi menggambarkan bahwa semudah itu varian virus corona yang baru menular,” katanya. 

Menurut dia, seseorang yang sudah terinfeksi COVID-19 dan mendapatkan vaksin, maka antibodi naik kecuali untuk varian Delta

Ketika seseorang sudah terkena varian Delta kemudian mendapatkan vaksin, maka keefektifannya tidak sebaik seseorang yang belum terkena varian Delta

Gatut menyampaikan, pembersihan pada ruangan maupun tubuh lebih utama dibanding disinfeksi.

“Kalau tangan kita kotor, jangan didisinfeksi saja tapi tidak dibersihkan. Bersihkan dulu menggunakan sabun, karena cara ini paling aman untuk merontokkan struktur virus yang hinggap pada tangan kita,” tegasnya. 

Gejala varian Delta

Gejala yang ditimbulkan oleh virus corona varian Delta hampir sama dengan gejala dari varian lainnya. Gejala yang biasa dialami pasien di antaranya adalah: 

1. Demam (94 persen).

2. Batuk (79 persen).

3. Sesak (55 persen).

4. Berdahak (23 persen).

5. Nyeri badan (15 persen).

6. Lelah (23 persen).

7. Sakit kepala (8 persen).

8. Rinorea (7 persen).

9. Batuk darah (5 persen).

10. Diare (5 persen). 

11. Anosmia (3 persen). 

12. Mual (4 persen). 

Gatut mengatakan, jika seseorang terkena gejala COVID-19 ringan, pada umumnya ia baik-baik saja (hanya 0,1 persen berat). Banyak masyarakat yang menganggap pasien yang sudah sembuh dari COVID-19 akan lebih kebal terhadap virus tersebut. 

“Mereka yang pernah kena COVID-19 bukan berarti dia sudah menumbuhkan antibodi, tetapi itu juga tandanya dia terbukti rentan terkena COVID-19, karena virus itu cocok dengan tubuhnya sehingga mudah masuk," katanya.

"Maka, kita juga cukup sering menemukan kasus orang yang terinfeksi virus COVID-19 untuk yang kedua kalinya,” imbuh dia. 

Berdasarkan informasi dari WHO, pasien dapat dikeluarkan dari isolasi setelah sepuluh hari positif SARS CoV2 (asimptomatik), dan sepuluh hari sesudah on set gejala dan terbebas dari gejala (simptomatik). 

Meskipun sudah bebas dari isolasi mandiri maupun isolasi di rumahsakit, protokol kesehatan tetap harus dipatuhi dan menerapkan pola hidup bersih juga sehat. 

Mengingat kasus positif di Indonesia semakin meningkat, Dekan FIA UI Prof. Candra Wijaya menekankan, pengetatan protokol kesehatan menjadi sebuah keharusan. 

"COVID-19 itu ada. Kalau belakangan kita mendengar dari berita banyak yang menderita COVID-19, sekarang kita mendengar dari WhatsApp Group kita, saudara kita, keluarga kita yang kita sayangi terjangkit COVID-19,” ungkapnya.(*)

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Batal Hidup Berdamai dengan COVID-19, Singapura Lockdown Lagi Karena Klaster karaoke Plus-plus

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved