Kasus Pelecehan dan Perundungan di KPI

Minta KPI Tanggapi Serius Kasus Pelecehan Seksual Pegawainya, PSI: Jangan Hanya Galak Sama Spongebob

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) buka suara terkait kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa pegawai Komisi Penyiaran (KPI) Pusat.

Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra
Gedung Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat yang berlokasi di Jalan. Ir. H Juanda, Jakarta Pusat, Kamis (2/9/2021). 

TRIBUNPALU.COM - Kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa pegawai Komisi Penyiaran (KPI) Pusat rupanya turut menyita perhatian dari berbagai pihak.

Termasuk dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Terkait dengan kejadian tersebut (PSI) menyarankan pemerintah dan DPR untuk menanggapi serius permasalahan tersebut.

"Dugaan pelecehan seksual dan bullying di lembaga negara yang didanai pajak mesti ditanggapi secara serius," kata Juru Bicara PSI, Dara Nasution dalam keterangan, Jumat (3/9/2021).

Tak hanya itu Dara juga meminta KPI untuk segera membawa kasus tersebut ke jalur hukum.

"KPI harus bergerak cepat menginvestigasi kejadian ini dan membawanya ke jalur hukum apabila terbukti. Jangan cuma galak dan gercep (gerak cepat) kalau menyensor kartun Spongebob," tambahnya.

Baca juga: KPI Akhirnya Buka Suara Soal Dugaan Pelecehan Seksual yang Dialami Oleh Pegawai Komisi Penyiaran

Baca juga: Update Kasus Dugaan Pelecehan Pria Sesama Pria di KPI, Korban Bakal Datangi Komnas HAM Hari Ini

Dara juga menyayangkan KPI yang terkesan lamban dalam memproses kasus ini.

"Dari keterangan korban, peristiwa kekerasan seksual dan bullying itu sudah terjadi dari tahun 2015 dan korban sudah mengadu kepada pimpinan di tahun 2017. Ini sudah tahun 2021, KPI melakukan apa saja aja selama empat tahun sehingga korban harus mencari keadilan lewat medsos? Saya kira sebaiknya lembaga ini dibubarkan saja," ujar Dara.

Pernyataan ini dibuat menanggapi dugaan kekerasan seksual dan bullying yang dilakukan oleh pegawai KPI terhadap korban MS di lingkungan kantor KPI Pusat di Jakarta.

Dugaan ini ramai ketika korban MS mengunggah ceritanya melalui media sosial.

Dara juga mengapresiasi keberanian korban untuk bersuara dan mencari keadilan atas kekerasan yang menimpanya.

"Keberanian korban MS harus kita apresiasi. Di media sosial, banyak yang menuduh korban hanya cari perhatian dan malah membully korban karena ia laki-laki. Tapi, kita mesti lihat, ia sudah menempuh segala macam cara untuk mencari keadilan tapi hasilnya nihil. Bahwa korban sampai harus bersuara di media sosial adalah bukti bahwa penanganan kasus kekerasan seksual di Indonesia belum optimal," ujar Dara.

Ia menyinggung Laporan Studi Kuantitatif Barometer Kesetaraan Gender yang dilakukan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) pada 2020.

Riset itu menunjukkan, mayoritas masalah kekerasan seksual di Indonesia berakhir tanpa kepastian.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved