Pilpres 2024
Muncul Wacana Koalisi Demokrat, PKS, PPP, Pengamat: Sulit Terjadi
Poros koalisi antara Partai Demokrat, PKS, dan PPP dinilai bakal sulit untuk terbentuk.
TRIBUNPALU.COM - Poros koalisi antara Partai Demokrat, PKS, dan PPP dinilai bakal sulit untuk terbentuk.
Hal itu disampaikan pengamat politik dari Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin.
Ujang menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh ketiadaan calon presiden (capres) unggulan dari ketiga partai tersebut.
Menurutnya, baik Demokrat, PKS, maupun PPP, tidak memiliki calon presiden yang memiliki elektabilitas cukup tinggi untuk bersaing dengan tiga nama capres yang sudah ada saat ini, yaitu Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan.
"Kalau saya llihat sih sulit ya poros Demokrat-PKS-PPP itu. Ya kalau terbentuk, terjadi, bagus-bagus saja. Sudah 20 persen lebih ya. Tapi ya susah, karena di Demokrat, PKS, PPP itu, tidak ada capres unggulan," kata Ujang, saat dihubungi Tribunnews.com, Minggu (3/9/2023).
"Tidak ada capres yang memiliki elektabilitas yang tinggi yang bisa bersaing dengan Prabowo, Ganjar, maupun Anies," sambungnya.
Adapun Ujang menilai, sejumlah sosok seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sandiaga Uno lebih menjual jika dipasang sebagai calon wakil presiden (cawapres).
"Kan berkoalisi itu ingin menang. Maka harus ada capres, termasuk cawapres yang dijual. Kalau cawapresnya ada yang bisa dijual, misal AHY bisa dijual sebagai cawapres, Sandiaga Uno juga masih bisa dijual sebagai cawapres. Tapi untuk capresnya enggak ada yang mumpuni. Enggak ada yang bisa menandingi figur-figur yang diusung di koalisi Demokrat PKS PPP kalau terbentuk," ucap Ujang.
"Hampir tidak ada tokoh selain dari tiga orang yang ada saat ini, yang elektabilitasnya selalu yang tertinggi ya mereka-mereka itu, Prabowo, Ganjar, Anies," lanjut pengamat politik itu.
Sehingga, menurut Ujang, kalaupun poros koalisi ini terbentuk, akan sulit untuk mendapatkan kemenangan di Pilpres 2024 mendatang.
Terlebih, lanjut Ujang, PKS sendiri tampak setia mendukung Anies Baswedan, meski saat ini koalisi pendukung mantan Gubernur DKI Jakarta itu telah berubah.
"Karena berkoalisi untuk menang, maka mereka sulit terjadi Demokrat-PKS-PPP. Apalagi PKS nya kan akan mendukung Anies. Karena Anies ini identik dengan PKS. Saya melihat PKS rasional saja, kayaknya PKS mendukung Anies Baswedan, walaupun koalisinya sudah berubah dengan NasDem dan PKB."
Diberitakan sebelumnya, Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menilai sosok yang disebut Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ada menteri aktif dari kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) membujuk Demokrat berkoalisi dengan PPP dan PKS adalah Menparekraf sekaligus Ketua Bappilu PPP, Sandiaga Uno.
Hal tersebut, kata Adi, dapat dilihat dari adanya upaya Sandiaga mendekati Demokrat lantaran dianggapnya poros Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) akan bubar.
Pendekatan tersebut disebut Adi dalam rangka upaya pembentukan poros baru antara Demokrat, PPP, dan PKS.
