Citizen Reporter
Dialog Buruh dan NGO di Sulawesi Tengah Ungkap Jam Kerja Tinggi Jadi Faktor Kecelakaan Kerja
Jam kerja tinggi juga dihadapi juga pekerja perempuan. Mereka harus bekerja rata-rata 52 jam dalam seminggu.
TRIBUNPALU.COM, PALU - Keselamatan kerja menjadi fokus pembahasan dialog sosial industri nikel bertajuk "Menuju Zero Accident di Sulawesi Tengah”.
Kegiatan itu digelar organisasi buruh dan Non-Governmental Organization (NGO) di Swissbell Hotel, Jl Malonda, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu.
Dalam pertemuan itu, sejumlah serikat pekerja mengungkap berberbagai data kecelakan kerja yang terjadi di kawasan Industri.
Data itu mencerminkan nyawa para buruh bagi perusahaan hanya sekadar aset atau investasi yang bisa ditimbang bobot biaya-dan-keuntungan (costs and benefits) demi menjaga produktivitas perusahaan serta menekan biaya operasional.
Federasi Pertambangan dan Energi Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (FPE KSBSI) dalam dialog itu membagikan survei periode Mei-Juli 2024 terkait keselamatan kerja kawasan Industri Morowali.
Baca juga: Sulrahman Harap Semua Perwakilan Serikat Buruh Dapat Terlibat dalam Formulasi Survei Morowali
Survei itu merupakan upaya untuk menggali masalah utama di kawasan industri Morowali yang bisa mengakibatkan tingginya angka kecelakaan kerja, sepanjang sejarah berdirinya kawasan tersebut.
Survei ini bertujuan memberikan kritik dan masukan terkait buruknya kondisi kerja kawasan industri Morowali.
Catatan Sembada Bersama Indonesia sejak tahun 2019 sampai 2025 telah terjadi 104 kecelakaan kerja di semua smelter nikel Indonesia, mengakibatkan meninggal dunia sejumlah 107 orang dan luka-luka 155 orang.
Paling terbaru kejadian Februari 2024 di departemen ferronickel PT Ocean Sky Metal Industry-seorang pekerja meninggal dunia.
Data Rasamala Hijau Indonesia juga mencatat kecelakaan kerja smelter dan pertambangan sebanyak 38 insiden dengan total korban 120 dan 32 orang, di antaranya meninggal dunia sepanjang tahun 2024.
Presiden FPE KSBSI Riswan Lubis mengatakan, hasil survei menemukan empat hal penting penyebab tingginya kecelakaan kerja di kawasan industri Morowali.
Yaitu faktor manusia termasuk kelalaian pekerja, faktor lingkungan kerja (environmental), faktor APD yang kurang memadai dan faktor kerusakan alat.
"Keempat faktor tersebut menunjukkan bahwa ada permasalahan besar terkait implementasi dari sistem K3 yang sudah mereka miliki. Lemahnya implementasi budaya keamanan dan K3 ini disebabkan adanya pembiaran yang dilakukan pengawas," kata Riswan melalui rilis tertulis diterima TribunPalu.com, Kamis (27/2/2025).
"Selain itu, kami juga menemukan bahwa hubungan kerja yang tidak harmonis antara pekerja TKA dan pekerja lokal memperparah buruknya implementasi sistem K3.”
Dari keempat faktor dan dua permasalahan implementasi K3 tersebut, FPE KSBSI juga mendapati alasan-alasan lain yang dapat menambah potensi angka kecelakaan kerja di kawasan industri Morowali.
Baca juga: Dinas Pariwisata Sulteng Pastikan Efisiensi Anggaran Tanpa Mengorbankan Event
Warga Tapanuli Utara Cari Anaknya di Kota Palu Sulteng: Kasihanilah Pak, Dia Kelaparan |
![]() |
---|
4 Menteri Kabinet Merah Putih Gabung PAN, Ada Hanif Faisol Nurofiq dan Dudy Purwagandhi |
![]() |
---|
Polda, DPKH dan Dinkes Gunungkidul Sosialisasi Larangan Penyembelihan Ruminansia Betina Produktif |
![]() |
---|
Mahasiswa IPB asal Donggala Lulus Uji Kompetensi Ahli Ilmu Faal Olahraga |
![]() |
---|
Rudiyanto Terpilih Ketua Perkumpulan Guru Agama Buddha Indonesia Sumatera Selatan |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.