Selasa, 28 April 2026

Bangkitkan Harapan di Pulau Terluar Indonesia: Perjalanan SMPN 3 Putik Menuju Adiwiyata

Betapa tidak, sekolah tempatnya mengajar lebih dari satu dekade di Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau itu sebelumnya tampak kumuh.

Penulis: Asnawi Zikri | Editor: Fadhila Amalia
Asnawi/TribunPalu.com
SEKOLAH ADIWIYATA - Dalam ajang IPA Convex 2025 di ICE BSD, Tangerang, MedcoEnergi menghadirkan SMPN 3 Putik sebagai bukti nyata transformasi dalam program Sekolah Adiwiyata di wilayah terluar Indonesia. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Asnawi Zikri

TRIBUNPALU.COM, JAKARTA- Siti Kamilah tak kuasa menahan haru ketika nama SMPN 3 Putik diumumkan sebagai penerima penghargaan Sekolah Adiwiyata dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). 

Betapa tidak, sekolah tempatnya mengajar lebih dari satu dekade di Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau itu sebelumnya tampak kumuh.

Baca juga: Sikola Mombine Desak Pemerintah Beri Perlindungan Korban Pelecehan Seksual di Palu

Sampah berserakan di mana-mana, drainase tak terurus, dan krisis air bersih, sehingga membuat aktivitas belajar mengajar kerap terhambat. 

"Sekolah itu tak terurus. Sampah berserakan. Belum lagi krisis air bersih. Mau siram tanaman saja bawa air dari rumah," kenang Siti Kamilah dalam ajang Indonesia Petroleum Association Convention & Exhibition (IPA Convex) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Selasa (20/5/2025).

Siti Kamilah sempat patah semangat untuk merubah sekolahnya, apalagi SMN 3 Putik berada di Laut Natuna, sehingga nyaris terlupakan.

Namun, asa itu ada setelah PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) melalui anak perusahaannya Medco E&P Natuna Ltd, membawa program Sekolah Adiwiyata ke sekolah wilayah terluar Indonesia ini.

Baca juga: Kenakan Serba Hitam, Najwa Shihab Tampak Lesu Iringi Kepergian sang Suami

Melalui pendekatan edukatif dan dukungan infrastruktur, mereka mengajak sekolah-sekolah untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Program tersebut bukan sekadar penghijauan. Guru-guru dilatih mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam kurikulum, anak-anak diajari memilah sampah, dan sekolah difasilitasi dengan tempat cuci tangan hemat air serta kebun hidroponik. Perlahan tapi pasti, budaya baru tumbuh: budaya peduli lingkungan.

“Perubahan mulai terlihat. Secara konsisten perubahan perilaku terjadi,” ujar Kamila. 

Ia menjadi motor penggerak perubahan ini, tak kenal lelah mengedukasi siswa dan rekan guru.

Hasilnya mulai tampak. Volume sampah sekolah berkurang 40 persen, penggunaan listrik dan air turun 25 persen, dan bibit mangrove mulai menghijaukan pesisir. 

Baca juga: Pemprov Sulteng Dukung Pengusaha Muda sebagai Motor Ekonomi Inklusif

Tak hanya lingkungan yang membaik, semangat siswa dan guru pun ikut tumbuh. Bahkan, para siswa kini menjadi agen perubahan di rumah dan lingkungan tempat tinggal.

Kini, sekolah di tepi Laut Natuna itu berdiri tegak, bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tapi juga simbol harapan. 

Harapan bahwa anak-anak dari wilayah terluar pun punya hak atas lingkungan yang bersih, sehat, dan masa depan yang lebih baik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved