Minggu, 26 April 2026

Parimo Hari Ini

Sosok Amanda Pernah Bawa Baki di HUT RI, Kini Wakili Parimo dalam Ajang Duta Wisata Sulteng

Keberagaman itu, katanya, membentuk pribadinya jadi sosok yang terbuka, menghargai perbedaan, dan cinta nilai budaya.

Penulis: Abdul Humul Faaiz | Editor: Fadhila Amalia
Istimewa
Nama Amanda kini makin dikenal berkat kiprahnya di dunia seni dan duta wisata. Perempuan berdarah Jawa-Bugis ini tumbuh besar di Desa Bambalemo, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, lingkungan yang kaya nilai tradisi Kaili. 

Laporan wartawan TribunPalu.com, Abdul Humul Faaiz

TRIBUNPALU.COM, PARIMO – Nama Amanda kini makin dikenal berkat kiprahnya di dunia seni dan duta wisata.

Perempuan berdarah Jawa-Bugis ini tumbuh besar di Desa Bambalemo, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, lingkungan yang kaya nilai tradisi Kaili.

Baca juga: Damkarat Palu Terima Outing Class TK RA Alkhairaat, Edukasi Peralatan dan Profesi Damkar

“Ayah saya orang Jawa, ibu Bugis, saya dibesarkan dalam tradisi masyarakat Kaili,” ujar Amanda kepada TribunPalu.com.

Keberagaman itu, katanya, membentuk pribadinya jadi sosok yang terbuka, menghargai perbedaan, dan cinta nilai budaya.

Ayahnya seorang polisi, mengajarkan disiplin dan tanggung jawab. Sementara ibunya, panutan dalam ketulusan dan etika.

"Ibu selalu bilang, kebaikan tak pernah sia-sia. Sekecil apapun, itu tetap membawa manfaat," katanya.

Baca juga: Pelepasan JCH Bawa Berkah bagi Pedagang Kaki Lima di Parimo Sulteng

Amanda mengaku keluarganya jadi sumber kekuatan sekaligus motivasi dalam setiap langkah dan perjuangan hidupnya.

Ia juga merasa beruntung punya sahabat-sahabat suportif yang selalu mendukung dan menyemangatinya.

Bagi Amanda, tumbuh di Desa Bambalemo sangat berkesan. Budaya Kaili yang kuat membentuk pandangan hidupnya.

“Saya belajar pentingnya hidup rukun, saling menghormati, dan menjaga keharmonisan dalam perbedaan,” ucapnya.

Ia pun tumbuh dengan nilai toleransi tinggi, terbiasa melihat keberagaman sebagai kekuatan, bukan perbedaan.

Amanda sempat menimba ilmu di Kampung Inggris Pare, Jawa Timur. Di sana, ia belajar bahasa Inggris secara intensif.

“Saya belajar grammar, speaking, listening sampai writing, dan dapat skor TOEFL ITP memuaskan,” katanya.

Lebih dari itu, ia belajar disiplin, manajemen waktu, dan memperluas jaringan dengan banyak pelajar dari daerah lain.

Baca juga: Kemelut di Yayasan Alkhairaat, Hajja Syarifa Sida Kantongi Akta Pernyataan Tak Pernah Beri Kuasa

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved